
Sentra Jateng – Jakarta, 4 Agustus 2025 – Wakil Menteri Pendidikan, Riset, dan Teknologi Bidang Sains dan Teknologi (Wamendikti Saintek), Prof. Abdul Haris, menegaskan perlunya transformasi sistem pendidikan tinggi Indonesia. Dalam Rapat Koordinasi Nasional Pendidikan Tinggi (Rakornas Dikti) hari ini, Haris meminta perguruan tinggi tak hanya mencetak lulusan generalis, tetapi fokus pada pembentukan spesialis kompeten.
“Era generalis sudah berakhir. Dunia butuh ahli-ahli spesifik yang benar-benar menguasai bidangnya,” tegas Haris di hadapan 500 rektor dan dekan se-Indonesia.
3 Arah Perubahan yang Ditekankan
1️⃣ Kurikulum Spesialisasi Dini
- Mahasiswa harus memilih konsentrasi khusus sejak semester 3
- Contoh: Teknik Mesin → Spesialis Robotika Industri
- Minimal 60% SKS untuk mata kuliah spesialisasi
2️⃣ Pola Rekrutmen Baru
- Tes minat bakat wajib untuk penerimaan mahasiswa
- Kuota 30% mahasiswa generalis, 70% spesialis
- Sistem double degree dengan industri
3️⃣ Sertifikasi Kompetensi Wajib
- Lulusan harus punya 2 sertifikat kompetensi
- Kolaborasi dengan BNSP dan perusahaan global
- Skema micro-credentials untuk skill spesifik
Data Kesenjangan Saat Ini
| Parameter | Lulusan Generalis | Kebutuhan Industri |
|---|---|---|
| Waktu Adaptasi | 6-12 bulan | <1 bulan |
| Kesesuaian Skill | 38% | 82% |
| Masa Tunggu Kerja | 5,8 bulan | 1,2 bulan |
Perguruan Tinggi Percontohan
✔ ITB: Program “Deep Tech Specialization”
✔ UGM: Skema “1 Student 1 Patent”
✔ ITS: Kurikulum “Industrial Mastery Track”
Target 2026
- 50 PTN/PTS menerapkan model baru
- 100.000 lulusan bersertifikat kompetensi
- Rasio kerja sesuai bidang naik ke 75%
Tantangan yang Dihadapi
- Resistensi dosen senior
- Infrastruktur lab yang terbatas
- Akreditasi prodi yang masih kaku
Dukungan Industri
Direktur PT Astra International, Djony Bunarto Tjondro:
“Kami siap beri beasiswa spesialisasi dan jamin serap lulusan yang kompeten.”
Red (ar/ar)
