
SENTRA JATENG – Indonesia memiliki peluang emas untuk menjadi pemimpin kreatif di panggung global. Kuncinya terletak pada kemampuan bangsa ini untuk tidak hanya mengadopsi, tetapi juga memanfaatkan teknologi secara cerdas dan berbudaya, mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal yang kaya. Pesan ini disampaikan pakar dalam sebuah diskusi pendidikan yang digelar secara hybrid, Rabu (3/9/2025).
“Kita tidak boleh sekadar menjadi penonton atau pengguna teknologi. Indonesia harus menjadi player yang aktif, menciptakan solusi-solusi kreatif berbasis teknologi yang lahir dari identitas dan permasalahan lokal kita,” tegas Prof. Dr. Iwan Pranoto, Pakar Pendidikan dari ITB, dalam paparannya.
Melampaui Literasi Dasar, Menuju Pemahaman yang Kritis
Langkah pertama yang harus dibenahi adalah membangun literasi teknologi yang tidak hanya sekadar bisa mengoperasikan, tetapi juga memahami cara kerjanya dan dampak etisnya. Pendidikan memegang peran kunci dalam menciptakan generasi yang melek digital sekaligus berkarakter.
“Literasi digital saja tidak cukup. Kita perlu mendorong computational thinking, kemampuan untuk memecahkan masalah kompleks dengan bantuan teknologi. Ini yang akan melahirkan inovator, bukan hanya operator,” ujar Nizam, Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Merajut Teknologi dengan Kearifan Lokal dan Bahasa Ibu
Pemanfaatan teknologi harus bersinggungan secara harmonis dengan kekayaan budaya Indonesia. Penggunaan bahasa ibu dan konten-konten lokal dalam platform teknologi dinilai dapat memperkuat identitas bangsa dan membuat inovasi Indonesia memiliki ciri khas yang unik di mata dunia.
“Teknologi harus menjadi alat untuk melestarikan dan mempromosikan budaya, bukan sebaliknya. Pengembangan software dalam bahasa daerah, misalnya, bisa membuka akses sekaligus menjaga warisan leluhur kita,” jelas Dewi Sushanty, Pakar Ekonomi Kreatif.
Kolaborasi Segitiga Emas: Pemerintah, Industri, dan Kampus
Untuk mewujudkan ambisi ini, kolaborasi yang erat antara pemerintah, industri teknologi, dan dunia kampus menjadi suatu keharusan. Sinergi ini diperlukan untuk menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan bakat kreatif dan inovasi teknologi yang aplikatif.
“Kolaborasi adalah kunci. Industri perlu membuka lebih banyak kesempatan magang dan apprenticeship, kampus mendidik calon talenta dengan kurikulum yang relevan, dan pemerintah menciptakan regulasi yang mendukung riset dan inovasi,” pungkas Ahmad Rizky, perwakilan dari sebuah perusahaan startup unicorn.
Red (ar/ar)
