
SENTRA JATENG – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang meluncurkan terobosan baru dalam bidang pendidikan dan penanganan masalah sosial: Sekolah Rakyat Terintegrasi. Program percontohan yang resmi dijalankan pada Senin (29/9/2025) ini bertujuan memberikan akses pendidikan dan pelatihan keterampilan bagi warga kurang mampu, termasuk anak putus sekolah dan gelandangan.
Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryah Rahayu, yang akrab disapa Ita, menegaskan bahwa program ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam menangani permasalahan sosial secara menyeluruh, tidak sekadar represif. “Jadi ini adalah sekolah untuk warga kita yang kurang mampu, anak putus sekolah, dan juga untuk para gelandangan. Kita beri mereka pendidikan dan keterampilan,” ujar Ita di Semarang, Senin.
Lokasi dan Konsep Integrasi
Sekolah Rakyat Terintegrasi ini berada di satu lokasi yang sama dengan Pusat Rehabilitasi Sosial (PRS) Tuna Sosial dan Panti Werda (Panti Wreda) Jala Cipta, di Jalan Raden Patah, Semarang. Konsep kolokasi ini sengaja diterapkan untuk menciptakan solusi yang holistik.
“Jadi di sini terintegrasi. Ada panti jompo, ada rehabilitasi sosial, dan sekarang ada sekolah rakyat. Harapannya, mereka yang belajar di sini bisa dapat dua hal: ilmu pengetahuan dan juga keterampilan yang bisa digunakan untuk mencari nafkah,” jelas Wali Kota Ita.
Kurikulum: Pendidikan Akademik dan Keterampilan Praktis
Kurikulum yang diterapkan dalam sekolah ini dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan riil peserta didik. Tidak hanya fokus pada pelajaran akademik setara paket A, B, dan C, tetapi juga sangat menekankan pada pelatihan keterampilan vokasional yang dapat langsung menjadi sumber penghasilan.
Beberapa pelatihan keterampilan yang disiapkan antara lain tata boga, tata rias, membatik, dan teknik servis ponsel. Pendekatan ini diharapkan dapat memberdayakan peserta secara ekonomi sehingga mampu hidup mandiri dan sejahtera.
Sasaran dan Tujuan Jangka Panjang
Program ini menyasar dua kelompok utama. Pertama, anak-anak dari keluarga prasejahtera yang putus sekolah. Kedua, para gelandangan dan warga miskin lainnya yang membutuhkan bekal untuk meningkatkan taraf hidupnya.
Wali Kota Ita berharap, kehadiran Sekolah Rakyat Terintegrasi ini dapat memutus mata rantai kemiskinan dan keterpinggiran di Kota Semarang. “Ini adalah upaya kami untuk memberikan kesempatan kedua dalam pendidikan dan kehidupan. Dengan bekal yang cukup, mereka diharapkan bisa mandiri dan berkontribusi positif bagi masyarakat,” punggasnya. Program ini akan terus dipantau dan dikembangkan untuk memastikan manfaatnya dapat dirasakan secara luas.
Red (ar/ar)
