dok. shintadwiayu/KOMPAS

SENTRA JATENG  – Di usia yang hampir genap 80 tahun, Nani Nurani (79) masih tegas menolak untuk dikubur oleh masa lalu. Perempuan yang menghabiskan 14 tahun hidupnya sebagai tahanan politik (tapol) Orde Baru tanpa proses pengadilan ini, justru memilih jalan panjang rekonsiliasi. Bukan dengan mengungkit luka, melainkan dengan mengikis stigma negatif yang melekat pada ribuan eks tapol lainnya.

“Kami ini korban. Tapi kami dikucilkan, dicap sebagai orang berbahaya. Padahal, kami hanya ingin diakui sebagai bagian dari bangsa ini,” ujar Nani dengan suara lirih namun penuh keyakinan, dalam wawancara khusus dengan Kompas.com, Rabu (2/10/2025).

Masa Kelam Penahanan tanpa Pengadilan

Kisah pilu Nani bermula pada 1968. Saat itu, ia baru berusia 22 tahun dan bekerja sebagai tenaga administrasi di sebuah lembaga pemerintah. Tanpa klarifikasi maupun proses hukum yang jelas, ia langsung ditahan dengan tuduhan terlibat Gerakan 30 September (G30S). Kenangan pahit itu masih membekas.

“Saya ditahan tanpa pernah diadili. Bertahun-tahun hidup dalam ketidakpastian, dipindahkan dari satu penjara ke penjara lain, termasuk ke Plantungan,” kenang Nani, merujuk pada Kamp Plantungan di Kendal, Jawa Tengah, yang menjadi lokasi penahanan bagi banyak tahanan politik perempuan kala itu. Ia akhirnya dibebaskan pada 1982, meninggalkan jeruji besi dengan segudang stigma.

Dihadang Stigma di Dunia Kerja

Babak baru perjuangan Nani justru dimulai setelah ia bebas. Dikeluarkan dari tahanan tidak lantas membuatnya merdeka. Cap sebagai “eks tapol” menjadi bagaikan tattoo yang sulit dihapus, menghalanginya untuk mendapatkan kehidupan yang layak.

“Setelah bebas, melamar kerja kemana-mana selalu ditolak. Begitu tahu latar belakang saya sebagai eks tapol, perusahaan langsung menutup pintu. Ini yang paling menyakitkan, merasa tidak diakui sebagai warga negara,” papar Nani tentang diskriminasi sistemik yang dihadapinya. Ia akhirnya bertahan dengan berjualan kue dan jahitan untuk menghidupi keluarganya.

Memilih Jalan Rekonsiliasi, Bukan Balas Dendam

Berbeda dengan narasi kebencian yang mungkin diharapkan sebagian orang, Nani justru memilih jalan yang berbeda: rekonsiliasi. Bersama rekan-rekan sesama eks tapol, ia aktif dalam berbagai dialog yang mendorong pengakuan negara dan pemulihan hak-hak dasar mereka.

“Bagi saya, yang terpenting bukan balas dendam. Tapi bagaimana anak cucu kami tidak mengulangi sejarah kelam yang sama. Kami ingin pengakuan bahwa kami adalah korban dari sebuah sistem,” tegas Nani. Perjuangan ini mulai membuahkan hasil dengan terbitnya sejumlah kebijakan yang lebih memanusiakan eks tapol di era reformasi.

Pesan untuk Generasi Muda

Di usianya yang senja, Nani berpesan kepada generasi muda untuk belajar dari sejarah tanpa terjebak dalam kebencian. Baginya, rekonsiliasi nasional adalah kunci untuk membangun Indonesia yang lebih inklusif.

“Jadikan sejarah sebagai guru, bukan sebagai alat untuk memecah belah. Anak muda harus kritis, tetapi juga harus memelihara nilai-nilai kemanusiaan dan persatuan,” tutup Nani. Perjalanan panjang Nani Nurani adalah bukti nyata bahwa luka masa lalu bisa menjadi lentera untuk menatap masa depan yang lebih beradab.

Red (ar/ar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Simak Berita Lengkap Viral Terpopuler !!!

X