
SENTRA JATENG – Pemerintah Indonesia sedang menyiapkan strategi besar untuk mengulang kesuksesan program biodiesel dengan meluncurkan program bahan bakar minyak (BBM) yang dicampur etanol. Langkah ini diambil sebagai upaya diversifikasi energi, mengurangi impor BBM fosil, dan menciptakan pasar baru bagi komoditas pertanian dalam negeri.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR, Kamis (9/10/2025), mengungkapkan bahwa skema pengembangan BBM etanol akan mencontoh pola yang telah terbukti berhasil pada program biodiesel. “Kita punya pengalaman sukses dengan B35 (biodiesel 35%). Sekarang kita akan kembangkan etanol dengan pendekatan yang sama, mulai dari uji coba, peningkatan secara bertahap, hingga mandatori,” ujar Arifin.
Skema Pengembangan dan Tahapan Uji Coba
Rencananya, program BBM etanol akan dimulai dengan tahap uji coba di beberapa wilayah yang memiliki bahan baku melimpah, seperti Jawa Tengah dan Lampung untuk etanol berbasis molase (tetes tebu), serta Sumatera Utara untuk etanol dari singkong. Pemerintah akan memulai dengan level campuran rendah, seperti E5 (5% etanol, 95% bensin), sebelum secara bertahap ditingkatkan.
“Kami akan mulai dengan skala terbatas untuk memastikan kesiapan mesin kendaraan, infrastruktur distribusi, dan pasokan etanolnya. Kita tidak ingin terburu-buru dan justru menimbulkan masalah baru,” jelas Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Dadan Kusdiana, dalam kesempatan yang sama.
Manfaat Ganda: Energi dan Pemberdayaan Petani
Keberhasilan program biodiesel B35 yang mampu menekan impor solar dan menyerap jutaan ton minyak sawit domestik menjadi acuan utama. Program BBM etanol diharapkan dapat memberikan dampak ganda yang serupa: meningkatkan ketahanan energi sekaligus memberdayakan petani tebu, singkong, dan sagu.
“Program ini berpotensi menciptakan rantai pasok baru yang melibatkan banyak petani. Selain mengurangi impor BBM, kita juga menggerakkan ekonomi desa dan menciptakan lapangan kerja,” tambah Dadan. Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar adalah menjaga pasokan bahan baku yang stabil dan berkelanjutan tanpa mengganggu ketahanan pangan.
Tantangan Implementasi dan Persiapan Infrastruktur
Meski prospeknya cerah, implementasi BBM etanol tidak tanpa hambatan. Beberapa tantangan yang dihadapi antara lain adaptasi mesin kendaraan lama terhadap bahan bakar baru, pembangunan fasilitas penyimpanan dan pencampuran (blending) yang memadai, serta penetapan harga yang kompetitif.
Pemerintah menyatakan akan berkoordinasi dengan asosiasi industri otomotif untuk memastikan kompatibilitas kendaraan. “Kami akan pelajari secara mendalam dampaknya terhadap mesin. Untuk kendaraan baru, ke depannya bisa dirancang agar kompatibel dengan BBM bercampur etanol,” kata Jongki Sugiarto, Ketua Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Jika semua tahapan berjalan mulus, program mandatori BBM etanol diproyeksikan bisa dimulai dalam 2-3 tahun mendatang, mengikuti jejak kesuksesan biodiesel.
Red (ar/ar)
