dok. Shutterstock/autsawin uttisin

SENTRA JATENG – Fenomena hujan yang turun di saat matahari bersinar terik kerap menimbulkan rasa heran dan pertanyaan di masyarakat. Peristiwa yang biasa disebut “hujan matahari” atau “hujan panas” ini bukanlah kejadian anomali atau mistis, melainkan memiliki penjelasan ilmiah yang dapat dipahami secara meteorologis.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui siaran resminya, Rabu (16/10/2025), menerangkan bahwa fenomena ini sangat mungkin terjadi dan merupakan bagian dari dinamika cuaca skala lokal yang biasa berlangsung di wilayah tropis seperti Indonesia.

Proses Terbentuknya Hujan di Tengah Terik Matahari

Menurut penjelasan Prakirawan Cuaca BMKG, Benyamin, fenomena ini terjadi karena adanya awan konvektif atau awan hujan yang terbentuk secara lokal dan sporadis. “Awan konvektif, seperti awan Cumulonimbus (Cb), dapat tumbuh dengan cepat dan menghasilkan hujan yang intens dalam area yang sempit, sementara di sekitarnya masih cerah dan terik,” jelas Benyamin.

Prosesnya dimulai dari pemanasan sinar matahari yang membuat sejumlah titik di permukaan bumi menjadi lebih panas. Udara panas yang mengandung uap air ini kemudian naik secara vertikal dan mengalami kondensasi di ketinggian, membentuk sel awan hujan yang padat. Sementara hujan turun di bawah naungan awan tersebut, di area sekitarnya yang tidak tertutup awan, matahari masih dapat bersinar dengan terang.

Ciri Khas dan Durasi Hujan

Hujan yang terjadi dalam kondisi seperti ini memiliki karakteristik yang khas. Biasanya, hujan berlangsung dalam waktu yang relatif singkat, antara 10 hingga 30 menit, dengan intensitas yang bisa sangat deras namun wilayah cakupannya sangat terbatas.

“Fenomena ini sangat lokal. Bisa jadi di satu kelurahan hujan sangat deras, sementara di kelurahan sebelahnya kondisi cerah dan panas. Inilah yang menyebabkan kesan seolah-olah hujan turun saat matahari masih terik,” tambah Benyamin.

Kaitan dengan Cuaca Ekstrem dan Imbauan BMKG

BMKG menegaskan bahwa fenomena hujan matahari adalah kejadian cuaca yang wajar. Namun, masyarakat perlu tetap waspada karena awan Cumulonimbus penyebab hujan jenis ini juga berpotensi menimbulkan cuaca ekstrem lain, seperti angin kencang puting beliung, atau petir.

Masyarakat diimbau untuk senantiasa memperbarui informasi cuaca dari kanal resmi BMKG, terutama ketika melihat pertumbuhan awan yang menjulang tinggi dan berwarna keabuan. Dengan memahami proses ilmiah di baliknya, fenomena alam yang sebelumnya dianggap “aneh” ini dapat dipandang sebagai bagian dari kekayaan dinamika cuaca di tanah air.

Red (ar/ar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Simak Berita Lengkap Viral Terpopuler !!!

X