
SENTRA JATENG – Menjadi seorang Lembaga Masyarakat Kelurahan (LMK) di usia muda bukanlah hal yang mudah. Itulah yang dirasakan oleh Fajar Ramadhan (22), pemuda asal Kelurahan Sungai Bambu, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, yang terpilih sebagai anggota LMK setempat. Di awal masa jabatannya, Fajar justru harus berhadapan dengan cibiran dan sikap meremehkan dari warga dan sesama pengurus yang lebih senior, semata-mata karena usianya yang masih sangat muda.
“Banyak yang bilang, ‘Kamu masih kecil, mau ngapain jadi LMK? Gak bakalan ada yang dengerin omongan lo’,” kenang Fajar saat berbincang dengan Kompas.com, Selasa (21/10/2025). Ia mengaku sempat merasa dikucilkan dan ide-idenya kerap diabaikan dalam rapat-rapat. Namun, tekanan tersebut justru memacu semangatnya untuk membuktikan bahwa generasi muda juga mampu memberikan kontribusi nyata.
Strategi Membuktikan Diri Lewat Teknologi dan Inovasi
Alih-alih menyerah, Fajar memilih untuk membungkam segala bentuk peremehannya dengan karya dan inisiatif konkret. Ia menyadari bahwa kelebihannya justru terletak pada hal-hal yang mungkin belum dikuasai oleh generasi sebelumnya, terutama dalam hal pemanfaatan teknologi digital.
“Saya coba perkenalkan sistem administrasi yang lebih digital, bikin grup WhatsApp untuk koordinasi yang lebih cepat, dan mengusulkan program-program yang relevan dengan anak muda,” ujar Fajar. Langkah awal ini mulai membuahkan hasil. Efisiensi dalam pengurusan surat dan penyebaran informasi mulai dirasakan warga, pelan-pelan mengubah pandangan skeptis mereka.
Program Kerja Nyata yang Akhirnya Diakui
Komitmen Fajar tidak berhenti di situ. Ia aktif menggalang dana sosial untuk membantu warga yang kurang mampu, mengorganisir kegiatan kebersihan lingkungan, dan menjadi jembatan komunikasi antara pemuda dengan para sesepuh di kelurahan. Aksi-aksi nyata inilah yang akhirnya berhasil meluluhkan hati warga.
“Sekarang justru banyak yang datang, curhat, minta saran ke saya. Mereka lihat saya serius dan konsisten,” tutur Fajar dengan nada bangga. Dari yang awalnya diremehkan, kini posisinya sebagai LMK justru dihormati dan didengarkan aspirasinya. Bahkan, para senior yang dulu meragukannya kini justru mendukung dan memberikan kepercayaan penuh.
Pelajaran Berharga dan Harapan untuk Masa Depan
Pengalaman Fajar menjadi bukti bahwa usia muda bukanlah penghalang untuk terlibat dalam pembangunan masyarakat. Perjalanannya membuktikan bahwa konsistensi, inovasi, dan kerja keras pada akhirnya mampu mengubah stigma.
“Saya berharap, pengalaman saya bisa menginspirasi pemuda lain untuk tidak ragu terjun ke organisasi kemasyarakatan. Jangan takut diremehkan, tapi jadikan itu sebagai bahan bakar untuk membuktikan bahwa kita bisa membawa perubahan positif,” pungkas Fajar penuh semangat. Keberhasilannya menjadi simbol baru bagi potensi generasi Gen Z dalam memikul tanggung jawab sosial di tingkat komunitas.
Red (ar/ar)
