
Sentra Jateng — Sosok legendaris Gunung Lawu, Wakiyem (82)—akrab disapa Mbok Yem—mengembuskan napas terakhir di rumahnya, Dusun Dagung, Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan, Rabu pukul 13.30 WIB. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi komunitas pendaki yang selama puluhan tahun menikmati kehangatan nasi pecel dan teh hangat di warung sederhana miliknya di ketinggian 3.100 mdpl.
Riwayat Singkat Sang Legenda
Sejak akhir 1980‑an, Mbok Yem mendirikan warung di puncak Lawu, tepatnya di pos Hargo Dalem, menjadi “oase” bagi pendaki yang menaklukkan jalur Cemoro Sewu. Dikenal murah senyum, ia selalu menyapa dengan sapaan khas “Monggo, ngombe sek!” (Silakan, minum dulu).
Dalam wawancara terdahulu, ia pernah berkata, “Saya senang lihat anak‑anak muda sampai puncak dengan selamat. Selama masih kuat, saya layani, meski jam 2 pagi goreng telur, ora popo (tidak apa‑apa),” kenang Mbok Yem, dikutip dari arsip Kompas 2022.
Sempat Dirawat karena Pneumonia
Kesehatan Mbok Yem menurun sejak awal April. Ia turun gunung dan dirawat di RSU Aisyiyah Ponorogo akibat pneumonia. Kondisinya sempat membaik sebelum akhirnya berpulang di kediamannya.
Keponakan sekaligus porter Lawu, Saiful Gimbal, menuturkan, “Mbah cuma pesan agar warung tetap ada supaya pendaki tidak kehabisan makan di atas.”
Jejak Warung Hargo Dalem
Warungnya pernah viral 2022 ketika video pendaki menandu Mbok Yem turun gunung demi merayakan Lebaran bersama keluarga beredar di media sosial. Komunitas pendaki lantas menggalang donasi untuk perawatan kesehatan dan perbaikan warung.
Rencana Pemakaman
Jenazah Mbok Yem dimakamkan hari ini di TPU desa setempat seusai salat zuhur. Ratusan pendaki, relawan, dan pegiat lingkungan tampak hadir. Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Lawu Sutanto Wibowo menyebut jasa Mbok Yem luar biasa: “Beliau bukan sekadar pedagang, tapi penjaga moral pendaki—selalu mengingatkan agar tidak buang sampah sembarangan.”
Warisan untuk Generasi Pendaki
Komunitas Lawu Rescue berencana memasang plakat peringatan di bekas warungnya bertuliskan “Warung Mbok Yem, tanda cinta untuk pendaki”. “Kami akan bergotong‑royong menjaga warung seperti pesan beliau,” kata koordinator Lawu Rescue Adi Purwanto.
Kepergian Mbok Yem menutup bab penting kisah Gunung Lawu. Namun semangatnya—menyambut setiap pendaki dengan hangat di tengah kabut dan dingin pegunungan—akan terus hidup di tiap gelas teh hangat yang kini diseduh penerusnya di Hargo Dalem.
(ar/ar)
