
Sentra Jateng – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengumumkan rencana menggelar Pemilu Raya untuk memilih ketua umum baru pada Juli 2025, meskipun Kaesang Pangarep baru menjabat selama dua tahun sejak ditunjuk pada September 2023.
Transformasi Menuju Partai Super Terbuka
Wakil Ketua Umum PSI, Andy Budiman, menyatakan bahwa Pemilu Raya ini merupakan langkah awal bagi PSI untuk menjadi “Partai Super Terbuka”, di mana semua anggota memiliki hak yang sama dalam menentukan arah partai. “Pemilu Raya akan menjadi awal bagi PSI untuk menjadi ‘Partai Super Terbuka’, yaitu sebuah partai yang dimiliki oleh semua anggota, bukan partai milik keluarga atau elite tertentu,” ujar Andy dalam keterangannya, Selasa (29/4/2025).
Sistem Pemilihan dan Syarat Pencalonan
Pemilihan ketua umum PSI akan menggunakan sistem “one man, one vote” atau satu anggota satu suara, dengan metode e-voting. Setiap anggota PSI memiliki hak suara untuk memilih ketua umum periode berikutnya. Kader partai dan warga masyarakat yang memiliki visi sejalan dengan PSI dapat mencalonkan diri, dengan syarat mendapatkan dukungan minimal dari 5 Dewan Pengurus Wilayah (DPW) tingkat provinsi dan 20 Dewan Pengurus Daerah (DPD) tingkat kota/kabupaten.
Kaesang Pangarep: Semua Boleh Mencalonkan Diri
Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep, menyatakan bahwa semua orang yang memenuhi syarat diperbolehkan mencalonkan diri dalam pemilihan ketua umum. “Semuanya boleh (mencalonkan diri), semuanya boleh. Ada syaratnya, ada syaratnya. Nanti akan dikeluarkan oleh tim SC,” kata Kaesang saat ditemui di Loji Gandrung Solo, Jumat (11/4/2025).
Latar Belakang Kaesang Pangarep di PSI
Kaesang Pangarep resmi ditunjuk sebagai Ketua Umum PSI pada 25 September 2023, menggantikan Giring Ganesha dalam acara Kopi Darat Nasional (Kopdarnas) PSI. Penunjukan ini menandai langkah awal Kaesang dalam dunia politik, mengikuti jejak ayahnya, Presiden Joko Widodo.
Kesimpulan
Dengan rencana Pemilu Raya yang akan digelar pada Juli 2025, PSI menunjukkan komitmennya untuk menjadi partai yang lebih terbuka dan demokratis. Langkah ini juga menjadi tantangan bagi Kaesang Pangarep untuk mempertahankan posisinya sebagai ketua umum, sekaligus membuka peluang bagi kader lain yang ingin berkontribusi dalam kepemimpinan partai.
(ar/ar)
