
Sentra Jateng – Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Wamen LHK) Alue Dohong menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,2% pada kuartal I-2025 tidak boleh mengabaikan aspek keberlanjutan lingkungan. Pernyataan ini disampaikan dalam Forum Ekonomi Hijau Indonesia di Jakarta hari ini.
Strategi Pembangunan Berkelanjutan
✔ Penerapan ekonomi sirkular di 5 sektor prioritas
✔ Target penurunan emisi 32% dengan upaya sendiri
✔ Reformasi kebijakan insentif industri hijau
Data Capaian Terkini
- Investasi hijau: Rp 286 triliun (naik 45% YoY)
- Deforestasi: Turun 75% dibanding 2020
- Energi terbarukan: 24% dari bauran energi nasional
Pernyataan Wamen LHK
“Kami tak mau mengulang kesalahan negara maju yang dulu mengejar pertumbuhan dengan mengorbankan lingkungan,” tegas Alue Dohong.
Program Unggulan 2025
- Green Industrial Parks di Kalimantan
- Karbon pricing untuk emisi industri
- Restorasi gambut 120.000 hektar
Tantangan yang Dihadapi
- Tekanan industri ekstraktif
- Perilaku konsumsi tidak ramah lingkungan
- Keterbatasan teknologi hijau
Perbandingan Regional
| Negara | Pertumbuhan | Emisi CO2 |
|---|---|---|
| Indonesia | 5,2% | Turun 8% |
| Vietnam | 6,1% | Naik 2% |
| Thailand | 3,8% | Turun 5% |
Dukungan Internasional
- Dana iklim $2,1 miliar dari World Bank
- Transfer teknologi dari Norwegia
- Pendampingan teknis oleh UNDP
Imbauan untuk Pelaku Usaha
- Manfaatkan insentif hijau pemerintah
- Terapkan ESG reporting
- Ikuti standar industri berkelanjutan
Red (ar/ar)
