
SENTRA JATENG – Kemacetan panjang dan kecelakaan di jalan tol seringkali dipicu oleh hal sepele: kelalaian etika berkendara. Para pengemudi kerap mengabaikan aturan tidak tertulis yang justru menjadi kunci menciptakan arus lalu lintas yang lancar dan aman bagi semua pengguna jalan.
Etika Menggunakan Lajur yang Sering Salah Kaprah
Salah satu pelanggaran etika paling umum adalah menghabiskan waktu di lajur kanan. Lajur kanan sejatinya hanya untuk mendahului kendaraan lain.
“Banyak pengemudi yang merasa nyaman cruising di lajur kanan dengan kecepatan konstan. Ini sangat berbahaya dan memicu kemacetan, karena memaksa kendaraan dari belakang untuk menyalip dari lajur kiri,” tegas Budi Santoso, Instruktur Safety Driving dari Indonesia Defensive Driving Center (IDDC), Kamis (21/8).
Bahaya Lampu Hazard yang Sembarangan
Kesalahan fatal lainnya adalah mengaktifkan lampu hazard saat hujan deras atau berkabut. “Lampu hazard justru membingungkan pengemudi di belakang. Mereka jadi bingung mau bergerak ke mana karena lampu sein tidak berfungsi. Saat hujan, cukup nyalakan lampu utama dan reduz kecepatan,” jelas Budi.
Penggunaan lampu sein yang tidak tepat, seperti lupa mematikan setelah pindah lajur atau tidak memberi tanda akan berpindah, juga menjadi pemicu utama konflik dan kecelakaan.
Etika Saat Ada Kendaraan Darurat dan Hindari Blind Spot
Etika penting lain yang sering dilupakan adalah segera memberi jalan untuk mobil patroli, ambulans, atau pemadam kebakaran. Menghalangi lajur mereka berarti menghambat pertolongan.
Selain itu, para pengemudi juga diingatkan untuk selalu waspada pada blind spot atau titik buta kendaraannya sendiri dan kendaraan lain, terutama truk dan bus. “Jangan pernah nongkrol di samping kendaraan besar. Mereka punya blind spot yang sangat besar. Salip dengan cepat dan pasti,” saran Budi.
Kesabaran dan Fokus adalah Kunci Utama
Faktor terpenting dari semua etika ini adalah kondisi pengemudi itu sendiri. “Kesabaran, fokus, dan empati untuk tidak egois di jalan adalah kunci utama. Jalan tol bukan arena balap, tapi infrastruktur untuk mempersingkat perjalanan semua orang dengan selamat,” pungkas Budi.
Menerapkan etika sederhana ini tidak hanya membuat perjalanan lebih nyaman, tetapi juga secara signifikan mengurangi risiko kecelakaan fatal.
Red (ar/ar)
