dok. UN PHOTO/CIA PAK

SENTRA JATENG – Setiap tahunnya, Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) diawali dengan sebuah ritual diplomatik yang tak tergoyahkan: perwakilan dari Brasil yang mendapat kehormatan untuk menyampaikan pidato pertama. Tradisi unik ini telah berlangsung selama puluhan tahun dan memiliki akar sejarah yang menarik, bermula dari masa-masa awal terbentuknya PBB.

Praktik ini bukanlah suatu kebetulan atau undian, melainkan sebuah konvensi yang telah mapan dan diterima oleh seluruh negara anggota. Brasil, dengan kebijakan luar negerinya yang aktif, secara konsisten memanfaatkan momen ini untuk menyampaikan pandangan globalnya.

Asal-usul dari Era Perang Dunia II

Sejarah penunjukan Brasil sebagai pembicara pertama ini berawal pada Sidang Umum PBB yang pertama pada 1946. Pada saat itu, banyak negara masih ragu-ragu untuk berbicara di forum baru yang bergengsi tersebut. Brasil, yang merupakan sekutu penting Blok Sekutu selama Perang Dunia II dan memiliki peran signifikan, dengan sukarela mengajukan diri untuk berbicara lebih dulu.

“Pada sidang-sidang awal, ada keengganan dari negara-negara besar untuk memulai debat. Brasil melihat peluang ini dan mengambil inisiatif, sehingga menjadi pembicara pertama. Sejak saat itu, tradisi ini terpelihara,” jelas seorang diplomat senior yang familiar dengan prosedur PBB.

Alasan Brasil Dipertahankan sebagai Pembicara Pertama

Alasan utama tradisi ini bertahan adalah karena konsistensi dan netralitas relatif Brasil dalam kancah politik global. Berbeda dengan kekuatan besar seperti Amerika Serikat atau Rusia yang sering kali memiliki posisi yang sangat polarisasi, pidato Brasil umumnya dianggap dapat mengatur nada diplomatis yang lebih membangun dan kurang konfrontatif untuk memulai sesi debat.

Selain itu, sebagai perwakilan dari Amerika Latin dan negara berkembang yang besar, pidato Brasil dianggap dapat memberikan perspektif yang seimbang, sehingga menjadi “pembicara pengantar” yang ideal sebelum para pemimpin dari negara-negara adidaya menyampaikan pidato mereka yang seringkali lebih tegas.

Pidato Kedua: Sang Tuan Rumah

Tradisi yang tak kalah mapan adalah pidato kedua yang selalu disampaikan oleh perwakilan Amerika Serikat. Sebagai tuan rumah markas besar PBB di New York, posisi ini menjadi penghormatan bagi AS.

Setelah kedua negara tersebut membuka sesi, urutan pidato para pemimpin dunia lainnya kemudian ditentukan oleh berbagai faktor, seperti tingkat perwakilan (kepala negara lebih diutamakan daripada kepala pemerintahan), urutan permintaan, dan pertimbangan geografis, sehingga menciptakan sebuah tatanan diplomatik yang kompleks setiap tahunnya. Tradisi Brasil ini menjadi salah satu keunikan dan warna tersendiri dalam tata kelola forum internasional terbesar di dunia.

Red (ar/ar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Simak Berita Lengkap Viral Terpopuler !!!

X