dok. pemkot semarang/KOMPAS

SENTRA JATENG  – Jika kita menyusuri kota-kota seperti Bandung, Yogyakarta, dan Semarang, jejak arsitektur kolonial Belanda tampak lebih dominan dan terawat dibandingkan banyak kota lain di Indonesia. Fakta sejarah membuktikan, kekayaan bangunan kuno ini bukanlah suatu kebetulan, melainkan hasil dari strategi politik, ekonomi, dan geografis pada masa Hindia Belanda.

Sejarawan dari Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Bambang Purwanto, menjelaskan bahwa konsentrasi pembangunan Belanda di ketiga kota tersebut sangat terkait dengan fungsi dan kepentingan strategisnya masing-masing. “Belanda membangun sebuah kota bukan tanpa alasan. Ada kepentingan ekonomi, politik, dan militer yang melatarbelakanginya. Bandung, Yogyakarta, dan Semarang memainkan peran yang sangat berbeda namun sama pentingnya dalam jaringan kolonial,” ujarnya, ketika diwawancarai Kompas.com, Kamis (2/10/2025).

Bandung: Si “Paris van Java” yang Dirancang Sejak Dini

Bandung menikmati status khusus sebagai permata mahkota pemerintah kolonial. Pada awal abad ke-20, Belanda bahkan berencana memindahkan ibu kota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung. “Rencana pemindahan ibu kota inilah yang membuat pembangunan infrastruktur dan gedung-gedung pemerintahan di Bandung sangat masif dan direncanakan dengan sangat matang,” papar Prof. Bambang.

Dengan udaranya yang sejuk, Bandung dijadikan kawasan wisata dan permukiman elite Eropa. Rancangan tata kotanya yang modern, lengkap dengan bangunan bergaya Art Deco dan Indo-Eropa, membuatnya dijuluki “Paris van Java”. Konsentrasi pembangunan inilah yang meninggalkan warisan arsitektur yang begitu kaya, mulai dari Gedung Sate hingga kompleks perkantoran di sepanjang Jalan Braga.

Yogyakarta: Pusat Politik dan Simbolis yang Dihargai

Keistimewaan Yogyakarta justru berawal dari hubungan yang unik antara Kesultanan Yogyakarta dengan pemerintah kolonial. Berbeda dengan daerah lain yang ditaklukkan secara paksa, Belanda menggunakan pendekatan diplomasi dan politik yang halus terhadap Yogyakarta. “Belanda sangat menghargai status politik dan simbolis Yogyakarta. Mereka membangun banyak bangunan di sekitar Keraton sebagai bentuk pengakuan dan sekaligus untuk memantau pergerakan politik di sana,” jelas Prof. Bambang.

Kehadiran bangunan-bangunan Belanda, seperti benteng Vredeburg dan kompleks Kotabaru, tidak dimaksudkan untuk menegasikan keraton, melainkan menjadi bagian dari lanskap politik yang kompleks. Pendekatan ini menghasilkan akumulasi bangunan kolonial yang berintegrasi dengan tata kota tradisional Jawa.

Semarang: Pelabuhan Utama yang Menjadi Pusat Niaga

Sementara itu, kekayaan Semarang berasal dari perannya sebagai pusat ekonomi. Sebagai salah satu pelabuhan terpenting di Pulau Jawa, Semarang menjadi nodal point perdagangan dan distribusi barang. “Semarang adalah kota niaga. Banyaknya kantor dagang, gudang, dan bangunan komersial di kawasan seperti Kota Lama mencerminkan fungsi ekonominya yang sangat vital bagi Belanda,” tambah Prof. Bambang.

Kawasan Kota Lama Semarang, yang sering disebut “Little Netherland”, adalah bukti nyata kejayaan ekonomi masa itu. Konsentrasi bangunan bergaya Eropa di kawasan ini jauh lebih padat dibandingkan kota-kota pelabuhan lainnya di pesisir utara Jawa.

Kontras dengan Kota Lain: Eksploitasi Semata

Prof. Bambang membandingkan dengan kota-kota lain seperti di Sumatra atau Kalimantan. Menurutnya, banyak kota di luar Jawa yang hanya berfungsi sebagai pusat eksploitasi sumber daya, seperti perkebunan atau pertambangan. “Belanda tidak berniat membangun kota-kota tersebut secara permanen dan megah. Fungsinya sangat ekonomis dan eksploitatif, sehingga investasi untuk pembangunan infrastruktur kota dan bangunan megah pun sangat minimal,” tutupnya.

Itulah sebabnya, warisan bangunan kolonial Belanda lebih terkonsentrasi di kota-kota yang memainkan peran strategis jangka panjang dalam politik dan ekonomi pemerintahan Hindia Belanda, dengan Bandung, Yogyakarta, dan Semarang sebagai prime example.

Red (ar/ar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Simak Berita Lengkap Viral Terpopuler !!!

X