
SENTRA JATENG – JAKARTA, 7 Oktober 2025 – Hubungan kerja Gubernur DKI Jakarta Purbaya dan Wakil Gubernur Pramono kerap terlihat harmonis di depan publik. Namun, sumber-sumber internal mengungkapkan dinamika yang lebih kompleks di balik layar, dimana tarik-ulur pengelolaan anggaran dan ambisi politik jangka panjang turut mewarnai.
Ketegangan halus di antara dua pucuk pimpinan ini disebut-sebut kerap muncul dalam pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Seorang sumber yang dekat dengan Pramono menyebut, sang wagub kerap merasa program andalannya kesulitan mendapatkan “ruang” dalam prioritas anggaran yang didorong oleh tim Purbaya.
Titik Gesekan di Meja Rapat Anggaran
Gesekan paling nyata terjadi dalam proses penyusunan APBD. Seorang politisi di Fraksi PDI-P DPRD DKI, Rendra S. Atmaja, membenarkan bahwa ada dinamika tarik-menarik kepentingan. “Di meja rapat, kita bisa lihat ada program dari Pak Pramono yang butuh pendanaan besar, tapi harus bersaing ketat dengan program prioritas Pak Gubernur. Ini wajar dalam politik, tapi memang terasa,” ujar Rendra.
Salah satu contoh yang kerap diangkat adalah alokasi untuk program pembangunan infrastruktur sosial skala kecil yang menjadi concern Pramono, yang harus berkompromi dengan proyek infrastruktur besar dan strategis yang menjadi fokus Purbaya. “Tarik-ulur ini bukan rahasia lagi di lingkaran dalam,” tambahnya.
Ambisi Politik dan Peta Jangka Panjang
Dinamika ini tidak bisa dilepaskan dari peta politik kedua tokoh tersebut. Purbaya, yang memiliki basis dukungan dan jaringan politiknya sendiri, diyakini sedang membangun pencapaian konkret untuk masa depannya. Di sisi lain, Pramono, yang juga merupakan kader Partai Golkar, memiliki ambisinya masing-masing dan perlu menunjukkan kinerja dan program yang bisa membangun elektabilitasnya.
Seorang analis politik, Ahmad Rizky, mengatakan, “Senyum di depan kamera adalah bagian dari politik. Tapi di belakang layar, yang terjadi adalah negosiasi, tawar-menawar, dan konsolidasi kekuatan. Baik Purbaya maupun Pramono sama-sama sedang membangun narasi dan basis politik untuk langkah mereka selanjutnya.” Hal ini, menurutnya, adalah hal yang klasik dalam politik elektoral.
Respon dari Tim Pimpinan DKI
Ketika dikonfirmasi mengenai dinamika ini, Juru Bicara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Dedi Kurniawan, membantah adanya ketegangan. “Yang ada adalah proses diskusi yang sehat dan dinamis antara Pak Gubernur dan Pak Wakil Gubernur. Tujuannya satu, mencari formula terbaik untuk kepentingan warga Jakarta. Perbedaan perspektif adalah hal yang wajar dalam tim kerja,” jelas Dedi.
Dia menegaskan bahwa hubungan kerja antara Purbaya dan Pramono tetap solid dan profesional. “Mereka adalah mitra kerja yang saling melengkapi. Fokus mereka adalah melaksanakan janji-janji pembangunan untuk Jakarta,” pungkasnya. Meski demikian, tarik-ulur di balik senyum keduanya tetap menjadi bahan pembicaraan hangat di kalangan politik ibu kota.
Red (ar/ar)
