
SENTRA JATENG – Suhu udara yang melonjak ekstrem dalam beberapa hari terakhir di Kota Semarang membuat para pekerja lapangan, terutama driver ojol (ojek online), harus menghadapi tantangan berat. Bukan sekadar gerah biasa, terik matahari yang menyengat hingga siang dan sore hari telah memaksa mereka untuk mengambil strategi “survival” demi menjaga kesehatan, mulai dari hampir pingsan hingga berani menolak orderan.
Seorang driver ojol, Ari Setiawan (38), mengaku sempat merasakan tubuhnya limbung dan hampir kolaps saat menunggu pesanan di sebuah tempat parkir kendaraan. “Tadi siang rasanya mau pingsan, Pak. Kepala pusing, keringat bercucuran, padahal baru beberapa jam di jalan. Akhirnya terpaksa cari tempat teduh dulu, minum yang banyak, terpaksa juga nolak order yang jauh-jauh,” ujar Ari saat berbincang dengan Kompas.com, Selasa (15/10/2025).
Strategi Bertahan di Tengah Terik Membara
Ari bukanlah satu-satunya. Banyak rekan seprofesinya yang mengambil langkah serupa untuk mengurangi risiko heatstroke atau sengatan panas. Beberapa strategi yang mereka terapkan antara lain lebih memilih untuk mangkal di tempat yang memiliki peneduh dan tersedia air minum, seperti di area mall atau warung kopi, alih-alih terus menerus berpatroli di bawah terik matahari.
Selain itu, mereka juga menjadi lebih selektif dalam menerima order. Orderan dengan jarak tempuh yang terlalu jauh atau melalui jalur yang terkenal macet dan minim pepohonan, sering kali mereka tolak. “Sekarang lebih milih order dekat-dekat saja. Yang penting masih bisa dapat penghasilan tanpa harus bikin sakit,” tambah driver lainnya, Rudi Prasetyo (41).
Peringatan Resmi dari BMKG
Keluhan para driver ojol ini bukannya tanpa alasan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Semarang telah mengonfirmasi bahwa suhu maksimum di Kota Semarang dan sejumlah wilayah Jawa Tengah memang sedang mengalami peningkatan signifikan. Suhu siang hari tercatat dapat mencapai 34-36 derajat Celsius, dengan indeks panas (heat index) yang terasa bahkan lebih tinggi akibat tingginya kelembapan.
“Kondisi ini dipicu oleh beberapa faktor, termasuk posisi semu matahari dan dinamika atmosfer yang mengurangi tutupan awan. Masyarakat, khususnya yang beraktivitas di luar ruangan, diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan,” jelas seorang prakirawan BMKG Semarang.
Imbauan untuk Pengguna Layanan
Menyikapi kondisi ini, para driver berharap adanya pengertian lebih dari para pengguna layanan ojol. Mereka meminta maaf jika terkadang harus menolak order atau responsnya menjadi lebih lambat dari biasanya. Cuaca ekstrem yang mereka hadapi bukanlah halangan biasa, melainkan ancaman serius terhadap kesehatan dan keselamatan mereka di jalan.
Insiden yang dialami para driver ojol di Semarang ini menjadi potret nyata dampak langsung dari fenomena cuaca ekstrem terhadap mata pencaharian kelompok masyarakat rentan, yang mengharuskan mereka untuk terus beradaptasi dan bertahan di tengah kondisi yang kian tidak menentu.
Red (ar/ar)
