
SENTRA JATENG – Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Danantara akan menerapkan proses evaluasi yang ketat sebelum menyetujui pendanaan untuk proyek Waste-to-Energy (WtE) atau sampah menjadi energi yang diusulkan pemerintah daerah. Langkah ini diambil untuk memastikan setiap proyek yang dibiayai benar-benar feasible, baik secara teknis, finansial, maupun lingkungan.
Direktur Utama Danantara, Ridha Wirakusumah, menegaskan bahwa lembaganya tidak akan serta merta menyalurkan dana tanpa kajian mendalam. “Kami akan melakukan review yang komprehensif. Tidak serta merta ada usulan dari pemda, kami kasih dananya. Itu tidak,” tegas Ridha dalam sebuah diskusi di Jakarta, Rabu (23/10/2025).
Tiga Pilar Kelayakan yang Diuji
Ridha memaparkan setidaknya ada tiga aspek utama yang akan ditinjau ulang oleh Danantara sebelum komitmen pendanaan diberikan. Pertama adalah aspek teknis, termasuk kesiapan teknologi dan kemampuan pemda dalam pengelolaan sampah. “Apakah pemdanya sudah siap? Apakah sampahnya sudah terkelola dengan baik? Itu prasyarat utama,” ujarnya.
Kedua, aspek finansial atau komersial. Danantara akan menganalisis kelayakan ekonomi proyek, termasuk struktur pendapatan dari penjualan listrik ke PLN. Ketiga, adalah aspek lingkungan dan sosial, untuk memastikan proyek tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat sekitar.
Mencegah Kegagalan dan Pemborosan Anggaran
Kebijakan review ketat ini merupakan pelajaran dari sejumlah proyek WtE di masa lalu yang mangkrak atau tidak beroperasi optimal. Banyak proyek serupa yang hanya menjadi “proyek mercusuar” tanpa perencanaan yang matang di level daerah.
“Kami ingin memastikan bahwa dana yang kami salurkan, yang pada dasarnya adalah uang rakyat, benar-benar memberikan manfaat dan hasil yang berkelanjutan, bukan justru menjadi beban baru,” jelas Ridha lebih lanjut.
Pendekatan Kolaboratif dengan Pemda
Meski bersikap selektif, Danantara menyatakan komitmennya untuk mendukung transisi energi hijau Indonesia. Lembaga ini akan aktif berkolaborasi dengan pemda-pemda yang dinilai serius dan memiliki kapasitas untuk mengembangkan proyek WtE.
“Kami akan dampingi pemda yang benar-benar siap. Mulai dari tahap perencanaan, penyiapan dokumen, hingga konstruksi. Tujuannya agar proyek bisa berjalan dengan baik dan sesuai tujuan awal,” pungkas Ridha Wirakusumah.
Dengan pendekatan ini, Danantara berharap dapat menciptakan proyek-proyek Waste-to-Energy yang tidak hanya menjadi solusi masalah sampah, tetapi juga aset produktif yang menguntungkan bagi daerah dan negara.
Red (ar/ar)
