
Sentra Jateng – Pemerintah Amerika Serikat secara resmi mengumumkan pengunduran diri dari peran sebagai mediator dalam konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina. Langkah ini menandai perubahan signifikan dalam pendekatan diplomatik Washington terhadap perang yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun.
AS Serahkan Tanggung Jawab Penuh kepada Rusia dan Ukraina
Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Tammy Bruce, menyatakan bahwa kini tanggung jawab untuk mengakhiri konflik sepenuhnya berada di tangan Rusia dan Ukraina. “Kami percaya bahwa solusi damai harus datang dari kedua belah pihak yang terlibat langsung dalam konflik ini,” ujar Bruce dalam konferensi pers di Washington DC.
Pernyataan Wakil Presiden JD Vance
Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, dalam wawancara dengan Fox News pada Kamis (1/5/2025), mengakui bahwa perang antara Rusia dan Ukraina belum bisa berakhir dalam waktu dekat, meskipun Washington baru saja menandatangani kesepakatan mineral dengan Kyiv. “Yang bisa kita lakukan adalah membantu Rusia dan Ukraina mencari jalan tengah,” ujar Vance. “Namun, pada akhirnya, kesepakatan damai harus datang dari kedua negara tersebut. Keduanya yang harus menghentikan konflik brutal ini,” imbuhnya.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio: Perlu Terobosan Segera
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam wawancara terpisah, menyebut perlunya “terobosan” segera untuk mengakhiri konflik ini. Ia menambahkan, jika tidak ada perkembangan signifikan, Presiden Donald Trump mungkin akan menarik diri sebagai mediator bagi kedua negara.
Dampak Keputusan AS terhadap Konflik
Keputusan AS untuk mundur dari peran mediator ini menimbulkan pertanyaan tentang arah dan strategi penyelesaian konflik ke depan. Dengan tidak adanya mediator utama, proses negosiasi antara Rusia dan Ukraina mungkin menghadapi tantangan baru dalam mencari solusi damai yang berkelanjutan.
(ar/ar)
