
Sentra Jateng – Raksasa mode mewah asal Inggris, Burberry, mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 1.700 karyawan atau sekitar 10% dari total tenaga kerja globalnya. Langkah ini diambil untuk menghemat biaya operasional hingga Rp2 triliun (setara £100 juta) di tengah penurunan permintaan pasar global. “Keputusan ini sulit, tetapi diperlukan agar Burberry tetap kompetitif dalam lanskap industri yang berubah cepat,” tegas CEO Burberry, Jonathan Akeroyd, dalam konferensi pers virtual, Kamis (14/5).
Restrukturisasi Burberry: Fokus pada Digitalisasi & Pasar Premium
Akeroyd menjelaskan, PHK akan difokuskan pada divisi non-inti seperti logistik tradisional dan layanan pelanggan konvensional. Sementara itu, perusahaan akan mengalokasikan dana lebih besar untuk pengembangan platform e-commerce dan ekspansi ke segmen super-luxury. “Kami akan memperkuat koleksi produk limited edition dan meningkatkan kolaborasi dengan desainer muda berbakat,” tambahnya. Burberry juga menutup 5 gerai di wilayah Eropa yang dinilai kurang produktif.
Analis: “Langkah Berisiko, Tapi Tak Terhindarkan”
Pakar ritel global dari Morgan Stanley, Louise Singlehurst, menyebut restrukturksi Burberry mencerminkan tekanan industri mode mewah pasca-resesi 2024. “Konsumen kini lebih selektif. Brand harus memangkas biaya sekaligus berinovasi agar tidak kehilangan market share,” jelasnya. Namun, Federasi Serikat Pekerja Inggris mengecam PHK ini. “Ini pengorbanan karyawan demi laba pemegang saham. Burberry harusnya memangkas bonus direksi, bukan pekerja,” protes Sekjen Federasi, Amanda Gearing.
Dampak ke Pasar Asia: Gerai di Indonesia Aman?
Berdasarkan penjelasan Direktur Burberry Asia Pasifik, Grace Lee, gerai di Indonesia dan Singapura tidak akan terdampak PHK. “Pasar Asia masih tumbuh 8% per tahun. Kami justru membuka pop-up store baru di Bali dan Jakarta pada 2026,” ujarnya. Namun, karyawan Burberry Indonesia mengaku khawatir. “Kami dengar ada evaluasi kinerja global. Semoga tidak ada pemotongan di level regional,” ujar salah satu staff toko di Plaza Indonesia yang enggan disebutkan namanya.
Pemegang Saham Soroti Efisiensi vs Reputasi
Rencana Burberry memicu pro-kontra di kalangan investor. Saham Burberry sempat turun 2,3% di Bursa London pagi ini, tetapi kembali naik setelah perusahaan memastikan dividen tetap dibagikan. “Penghematan Rp2 triliun adalah sinyal positif, tapi kami awasi apakah langkah ini tidak merusak citra Burberry sebagai brand ramah pekerja,” kata Manajer Investasi Schroders, Mark Harrison.
Masa Depan Burberry: Akankah Efisiensi Berbuah Profit?
Akeroyd memproyeksikan perusahaan akan kembali mencatatkan pertumbuhan laba bersih mulai 2026. “Transformasi digital akan mengurangi ketergantungan pada gerai fisik. Target kami, 40% penjualan berasal dari online dalam 3 tahun,” paparnya. Sementara itu, Burberry berencana membuka pusat inovasi di Seoul dan Milan untuk memperkuat desain berbasis teknologi augmented reality.
(ar/ar)
