
Sentra Jateng – Laporan terbaru dari Ember Energy, lembaga analisis energi global, mengungkap fakta mengejutkan tentang komitmen negara-negara dunia terhadap transisi energi. Meski banyak negara mengklaim fokus pada gas energi bersih, nyatanya pertumbuhannya hanya naik 2% dalam 5 tahun terakhir.
“Data kami menunjukkan adanya gap besar antara retorika dan realita. Banyak negara masih bergantung pada bahan bakar fosil tradisional,” tegas Dave Jones, analis utama Ember Energy.
5 Temuan Kunci Laporan Ember Energy
1️⃣ Pertumbuhan Lambat: Gas energi bersih hanya menyumbang 12% dari total bauran energi global (2024).
2️⃣ Ketimpangan Regional: Negara maju tumbuh 5%, sementara negara berkembang justru minus 1%.
3️⃣ Subsidi Masif: Dana subsidi fosil masih 3x lipat lebih besar daripada energi bersih.
4️⃣ Proyek Gagal: 1 dari 4 proyek gas bersih terbengkalai karena pendanaan.
5️⃣ Emisi Masih Tinggi: Gas disebut ‘bersih’, tapi emisi CO₂ sektor energi tetap naik 1,8%/tahun.
Perbandingan Negara Pengadopsi Gas Bersih
| Negara | Pertumbuhan Gas Bersih (2020-2025) | Target 2030 |
|---|---|---|
| Norwegia | +15% | 40% |
| Jerman | +8% | 35% |
| Indonesia | +3% | 20% |
| AS | +4% | 30% |
| India | -2% | 15% |
Penyebab Kegagalan Transisi
✔ Biaya tinggi: Teknologi Carbon Capture Storage (CCS) belum ekonomis
✔ Regulasi tumpang tindih: Insentif tidak jelas
✔ Lobi industri fosil: Pengaruh kuat di kebijakan energi
Respons Pemerintah Indonesia
Dirjen EBTKE Kementerian ESDM:
“Kami sedang percepat 3 proyek gas bersih di Sumatra dan Kalimantan. Target 10% bauran 2026 bisa tercapai.”
Kritik dari Aktivis
Greenpeace Indonesia:
“Ini bukti dunia terjebak greenwashing. Gas tetap fosil, bukan solusi iklim!”
Red (ar/ar)
