dok. Wahana

SENTRA JATENG – Kebiasaan buruk sejumlah pengemudi yang melawan arus dan menerobos lampu merah dinilai sebagai pemicu utama kemacetan lalu lintas yang semakin parah di berbagai kota besar Indonesia. Perilaku egois dan tidak tertib ini tidak hanya menimbulkan kemacetan, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas secara signifikan.

Dampak Fatal Melawan Arus

Melawan arus merupakan pelanggaran yang sangat berbahaya. Aksi ini memicu kemacetan karena memaksa kendaraan yang berjalan sesuai arah untuk berhenti atau menghindar, sehingga mengganggu kelancaran arus lalu lintas. Selain itu, melawan arus juga meningkatkan potensi tabrakan kepala (head-on collision) yang dapat berakibat fatal.

“Sangat disayangkan, masih banyak pengemudi yang nekat melawan arus untuk menempuh jalan pintas. Mereka tidak hanya membahayakan diri sendiri, tetapi juga pengguna jalan lain,” tegas Budi Santoso, Instruktur Safety Driving dari Indonesia Defensive Driving Center (IDDC), Sabtu (23/8).

Menerobos Lampu Merah Picu Kemacetan Berantai

Pelanggaran lain yang tak kalah merusak adalah menerobos lampu merah. Ketika satu kendaraan memaksa diri melewati persimpangan saat lampu sudah merah, ia memotong jalur kendaraan dari arah lain yang sudah mendapatkan lampu hijau. Hal ini memaksa kendaraan yang berhak jalan untuk berhenti mendadak, sehingga menimbulkan kemacetan berantai dan mengacaukan sistem penataan lalu lintas yang sudah diatur.

“Persimpangan adalah titik rawan. Ketika satu orang menerobos lampu merah, seluruh arus lalu lintas dari semua arah jadi terganggu. Ini adalah sumber kemacetan yang sangat nyata,” jelas Budi.

Tingkatkan Kesadaran dan Penegakan Hukum

Para ahli menekankan bahwa solusi utama dari masalah ini adalah peningkatan kesadaran individu pengemudi untuk disiplin dan mematuhi peraturan lalu lintas. Selain itu, penegakan hukum yang tegas oleh pihak berwajib juga mutlak diperlukan untuk memberikan efek jera.

“Kita perlu membangun budaya tertib lalu lintas. Mulai dari diri sendiri, dan didukung oleh penindakan yang konsisten dari aparat. Teknologi seperti electronic traffic law enforcement (ETLE) juga harus dimaksimalkan,” pungkas Budi.

Mengubah kebiasaan buruk ini diyakini dapat berkontribusi besar dalam mengurangi kemacetan dan menciptakan lalu lintas yang lebih aman dan nyaman bagi semua orang.

Red (ar/ar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Simak Berita Lengkap Viral Terpopuler !!!

X