dok. AFP PHOTO/HIROSHIMA PEACE MEMORI

SENTRA JATENG – Selama 80 tahun terakhir, dunia telah menyaksikan lebih dari 2.000 ledakan nuklir dalam berbagai uji coba oleh sejumlah negara. Dampaknya masih terasa hingga hari ini, baik secara lingkungan maupun kesehatan, meninggalkan warisan kelam yang terus menghantui umat manusia.

Warisan Radiasi yang Tak Pernah Hilang

Laporan terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan, jejak radiasi dari uji coba nuklir masih dapat dideteksi di atmosfer, tanah, dan air di berbagai belahan dunia. Zat radioaktif seperti cesium-137 dan strontium-90 telah mencemari rantai makanan, berdampak pada kesehatan jutaan orang.

“Dampaknya tidak berhenti ketika ledakan usai. Radiasi tetap ada, bermutasi, dan terus memengaruhi kehidupan selama puluhan tahun,” jelas Dr. Elena Petrova, pakar radiologi lingkungan dari PBB, dalam konferensi pers virtual, Selasa (26/8).

Dampak Kesehatan yang Masih Berlanjut

Peningkatan kasus kanker, cacat lahir, dan gangguan imunitas masih terjadi di daerah-daerah yang terpapar radiasi nuklir, seperti di sekitar Semipalatinsk (Kazakhstan), Atol Bikini (Kepulauan Marshall), dan Fukushima (Jepang). Generasi kedua dan ketiga korban uji coba nuklir masih merasakan efek kesehatan yang serius.

“Kakek saya meninggal karena kanker paru-paru akibat uji coba nuklir tahun 1960-an. Sekarang, anak saya lahir dengan kondisi jantung lemah. Ini seperti kutukan yang tidak berakhir,” kisah Bekzat Almakov (48), warga Kazakhstan.

Desakan untuk Pengawasan dan Perlucutan Senjata Nuklir

Di tengah tren perlucutan senjata nuklir yang masih lambat, aktivis perdamaian dunia mendesak negara-negara pemilik senjata nuklir untuk menghentikan uji coba dan mengurangi stok senjata mereka. Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) juga didorong untuk ditegakkan lebih serius.

“Kami tidak boleh berpuas diri. Setiap ledakan nuklir, baik uji coba atau perang, adalah ancaman eksistensial bagi peradaban,” tegas Direktur ICAN, Melissa Parke.

Tingginya angka ledakan nuklir dalam 80 tahun terakhir menjadi pengingat kelam betapa manusia memiliki kapasitas untuk menghancurkan diri sendiri—dan bumi—dalam sekejap.

Red (ar/ar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Simak Berita Lengkap Viral Terpopuler !!!

X