
SENTRA JATENG – Penderitaan petani tebu di Lumajang, Jawa Timur, kian menjadi. Usai diterpa konflik agraria dan kekerasan, kini mereka harus menghadapi persoalan ekonomi yang sangat pelik. Sebanyak 9.000 ton gula tebu hasil produksi mereka menumpuk di gudang dan belum laku terjual. Penyebabnya, petani tidak memiliki biaya untuk mengangkut komoditas tersebut ke pabrik gula.
Persoalan klasik berupa minimnya akses permodalan dan infrastruktur logistik kembali menjadi batu sandungan yang menghambat pendapatan ratusan petani. Gula tebu yang seharusnya menjadi penopang hidup justru teronggok tanpa kepastian, di tengah harga kebutuhan pokok yang terus melambung.
Gunungan Gula di Tengah Lautan Masalah
Stok gula tebu sebesar 9.000 ton itu bukan jumlah sedikit. Ia merupakan hasil jerih payah puluhan petani yang tergabung dalam sejumlah kelompok tani di Lumajang. Namun, hasil panen yang seharusnya membawa berkah itu justru menjadi beban psikologis dan finansial.
“Masalahnya ada di biaya angkut. Untuk mengangkut tebu dari gudang penyimpanan di Lumajang ke Pabrik Gula (PG) di Jatiroto, Kabupaten Jember, dibutuhkan biaya yang tidak kecil. Saat ini, petani sama sekali tidak memiliki ongkos untuk itu,” jelas seorang perwakilan petani, Suwardi, ketika dikonfirmasi.
Biaya Angkut yang Membelit
Rincian biaya yang harus ditanggung petani sungguh memberatkan. Untuk mengangkut satu truk tebu berkapasitas 7 ton, petani harus merogoh kocek hingga Rp 1,5 juta. Dengan total 9.000 ton yang teronggok, dibutuhkan lebih dari 1.285 rit truk, yang total ongkos angkutnya mencapai sekitar Rp 1,9 miliar.
Sebuah angka yang mustahil bagi petani yang kondisi ekonominya sudah terpuruk. “Kami sudah tidak punya uang lagi. Hasil panen sebelumnya sudah habis untuk biaya hidup dan mengelola kebun. Kami benar-benar terjepit,” keluh Suwardi, mewakili suara ratusan petani lainnya.
Upaya Penyelesaian yang Masiah Mengambang
Menyikapi persoalan ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang mengaku sedang berupaya mencari solusi. Upaya koordinasi dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI selaku pengelola PG Jatiroto telah dilakukan.
“Kami sudah berkoordinasi dengan PTPN XI untuk membantu petani. Namun, memang dibutuhkan komitmen dan skema yang jelas, mengingat besarnya biaya yang dibutuhkan,” ujar Pejabat Dinas Pertanian Lumajang, Ahmad Faisal. Sayangnya, hingga saat ini belum ada skema bantuan yang konkret dan langsung menyentuh akar masalah, yaitu pembiayaan angkutan.
Ancaman Kerugian yang Kian Membesar
Keterlambatan penjualan bukan hanya soal pendapatan yang tertunda. Tumpukan gula tebu di gudang yang tidak memadai berisiko menurunkan kualitas produk. Paparan udara lembab dan hujan dapat membuat tebu mudah busuk dan berjamur, yang pada akhirnya akan menurunkan harga jual bahkan ditolak oleh pabrik.
Jika hal itu terjadi, petani tidak hanya kehilangan pendapatan, tetapi juga modal yang telah mereka tanamkan. Situasi ini semakin memperparah kondisi ekonomi keluarga petani di Lumajang yang sudah sangat sulit.
Red (ar/ar)
