
SENTRA JATENG – Kemajuan teknologi suara kecerdasan buatan (AI) kini telah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Sebuah studi terbaru mengungkapkan, suara yang dihasilkan AI semakin sulit dibedakan dari suara manusia asli, bahkan menyebabkan banyak orang secara tidak sadar lebih mempercayai suara AI yang terdengar “normal” daripada suara manusia yang terdengar gugup.
Penelitian yang dilakukan tim dari University College London (UCL) dan diterbitkan dalam jurnal “Nature Communications” pada Oktober 2025 ini menyoroti dampak psikologis dari realisme suara AI. Partisipan dalam studi tersebut menunjukkan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi pada audio yang dihasilkan komputer karena dianggap lebih lancar dan percaya diri.
Tingkat Akurasi Identifikasi yang Mengkhawatirkan
Dalam serangkaian eksperimen, para peneliti memutar berbagai klip audio—campuran antara suara manusia asli dan suara yang dibuat oleh generator suara AI mutakhir—kepada ratusan partisipan. Tugas mereka sederhana: menentukan mana suara manusia dan mana suara AI.
Hasilnya cukup mencengangkan. Rata-rata, partisipan hanya mampu mengidentifikasi suara AI dengan akurasi sekitar 70-80 persen. Artinya, dalam banyak kesempatan, suara buatan tersebut berhasil menipu pendengarnya dan dianggap sebagai suara asli manusia. “Ketidakmampuan untuk membedakan ini bukan hanya soal teknologi, tapi tentang bagaimana otak kita memproses dan mempercayai informasi,” ujar salah seorang peneliti utama dalam studi tersebut.
Bias Psikologis: Kepercayaan pada “Kesempurnaan” AI
Temuan yang lebih menarik sekaligus mencemaskan adalah adanya bias psikologis pada partisipan. Ketika mendengar suara manusia asli yang mengandung sedikit keraguan, jeda, atau ketidaksempurnaan alami dalam bicara, partisipan cenderung lebih tidak percaya.
Sebaliknya, suara AI yang dirancang untuk terdengar sempurna, lancar, dan penuh keyakinan justru lebih mudah dipercaya. “Kita secara tidak sadar mengasosiasikan kelancaran dan kepercayaan diri dengan kebenaran. AI memanfaatkan ini dengan sangat baik, menciptakan suara yang ‘terlalu sempurna’ untuk menjadi kenyataan, namun justru itulah yang dipercaya orang,” papar peneliti lainnya. Fenomena ini disebut sebagai “illusion of authenticity” atau ilusi keaslian.
Implikasi Besar bagi Keamanan Informasi
Studi ini memperingatkan adanya implikasi serius terhadap keamanan informasi dan penyebaran misinformasi di masyarakat. Dengan suara AI yang nyaris sempurna, potensi penipuan melalui telepon, pemalsuan pesan darurat, hingga penyebaran berita palsu (hoaks) yang disampaikan oleh “suara publik figur” menjadi ancaman yang sangat nyata.
Para peneliti menyerukan perlunya edukasi publik dan pengembangan teknologi deteksi yang lebih canggih. “Kita memasuki era dimana telinga kita sendiri tidak lagi bisa diandalkan. Membekali masyarakat dengan literasi digital dan skeptisisme sehat menjadi kunci untuk menghadapi era deepfake audio ini,” tutup laporan studi tersebut.
Red (ar/ar)
