
SENTRA JATENG – Isu yang menyebutkan bahwa Pulau Jawa diprediksi akan tenggelam pada tahun 2050 belakangan ramai diperbincangkan publik. Menanggapi hal tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan penjelasan untuk meluruskan narasi yang beredar, menyangkal prediksi tenggelam secara keseluruhan, namun mengonfirmasi ancaman serius di wilayah pesisir.
Peneliti Pusat Riset Klimatologi dan Atmosfer BRIN, Didit Satiadi, menjelaskan bahwa yang terjadi bukanlah tenggelamnya seluruh pulau, melainkan ancaman rob dan banjir akibat kenaikan muka air laut yang akan semakin sering melanda daerah pesisir. “Yang benar adalah, pada 2050, sebagian wilayah pesisir utara Jawa berpotensi mengalami banjir rob yang lebih parah dan luas akibat kenaikan muka air laut,” ujar Didit, Rabu (23/10/2025).
Faktor Utama: Kenaikan Muka Air Laut Global
Didit memaparkan bahwa ancaman ini didorong oleh fenomena kenaikan muka air laut secara global sebagai dampak dari perubahan iklim. Mencairnya es di kutub dan pemuaian air laut akibat peningkatan suhu menjadi penyebab utama. “Proyeksi kami dan lembaga internasional menunjukkan tren kenaikan muka air laut yang konsisten. Ini yang akan memperparah genangan rob, terutama ketika terjadi pasang laut tinggi atau hujan lebat,” jelasnya.
Ia menegaskan, proses ini berbeda dengan penurunan muka tanah (land subsidence) yang terjadi sangat cepat di kota-kota seperti Jakarta dan Semarang, yang memperburuk dampak rob.
Kawasan Pesisir Utara Jawa Paling Rentan
Dalam paparannya, Didit menyebutkan bahwa daerah-daerah di pesisir utara Jawa lah yang paling berisiko mengalami dampak signifikan. Beberapa kawasan yang disebutkan antara lain adalah sebagian pesisir Jakarta, Bekasi, Karawang, Pekalongan, Semarang, Demak, dan Surabaya.
“Di daerah-daerah ini, kita akan melihat garis pantai semakin mundur, dan daerah yang sebelumnya hanya banjir sesekali, bisa menjadi langganan rob permanen. Kombinasi antara kenaikan air laut dan penurunan tanah mempercepat proses ini,” tutur Didit.
Kebutuhan Aksi Mitigasi yang Konkret
Menutup penjelasannya, peneliti BRIN ini menekankan pentingnya aksi mitigasi dan adaptasi yang serius. Ia mengatakan bahwa prediksi ini bukanlah sebuah kepastian mutlak, tetapi sebuah peringatan. “Ini adalah skenario yang bisa kita perkecil dampaknya. Kuncinya adalah dengan memperkuat infrastruktur pesisir, seperti tanggul dan pemulihan mangrove, serta yang paling penting, mengendalikan laju penurunan tanah dengan membatasi pengambilan air tanah secara berlebihan,” pungkas Didit.
Dengan demikian, BRIN meluruskan bahwa Pulau Jawa tidak akan tenggelam secara harfiah pada 2050, namun sebagian wilayah pesisirnya menghadapi ancaman serius yang membutuhkan penanganan segera dari semua pihak.
Red (ar/ar)
