
Sentra Jateng — Sosok Mbok Yem, penjaja makanan legendaris di puncak Gunung Lawu, terus dikenang karena semangatnya yang tak pernah padam. Di usianya yang sudah senja, perempuan asli Magetan, Jawa Timur, itu tetap setia melayani para pendaki, bahkan rela bangun jam 2 pagi hanya demi menggoreng telur untuk sarapan mereka.
Mbok Yem sudah puluhan tahun menjadi bagian dari perjalanan spiritual dan petualangan para pendaki Gunung Lawu. Warung kecilnya yang berada tak jauh dari puncak, tepatnya di Hargo Dalem, menjadi titik persinggahan terakhir bagi para pendaki sebelum mencapai puncak atau saat kembali turun.
Dalam wawancara dengan Kompas.com, Mbok Yem mengaku sudah mulai tinggal di puncak sejak era 1980-an. “Waktu itu masih sedikit yang naik. Tapi saya sudah di sini, jualan seadanya. Sekarang ya Alhamdulillah, bisa terus melayani anak-anak muda yang mendaki,” ujar Mbok Yem dengan senyum hangatnya.
Salah satu kisah yang banyak dikenang oleh para pendaki adalah kebiasaan Mbok Yem bangun tengah malam hanya untuk memastikan semua pendaki bisa menikmati sarapan hangat. “Kadang ada yang datang jam 1 atau 2 pagi, saya langsung goreng telur atau buat mie, biar mereka bisa lanjut nanjak dengan tenaga,” kata Mbok Yem.
Menu andalan warungnya sangat sederhana, mulai dari mie instan, nasi pecel, hingga telur goreng. Namun justru kesederhanaan itulah yang menjadi kekuatan utama warung Mbok Yem. Banyak pendaki yang menyebut, tidak lengkap rasanya mendaki Gunung Lawu tanpa singgah di warung ini.
Tidak hanya soal makanan, Mbok Yem juga dikenal karena keramahan dan semangat hidupnya yang luar biasa. Ia kerap memberi nasihat kepada para pendaki muda, agar menjaga kelestarian alam dan tidak sombong di gunung. “Gunung itu tempat yang sakral, harus dijaga. Jangan buang sampah sembarangan,” ujarnya tegas.
Meski usianya sudah lanjut dan medan menuju puncak bukanlah hal yang mudah, Mbok Yem mengaku belum punya niat untuk berhenti. “Selagi saya masih bisa jalan, saya akan terus di sini. Ini sudah jadi rumah saya,” tuturnya.
Semangat Mbok Yem menjadi inspirasi tersendiri bagi banyak orang. Ia bukan hanya penjaja makanan, melainkan penjaga nilai-nilai kebersamaan dan kehangatan di tengah kerasnya alam pegunungan.
(ar/ar)
