
Sentra Jateng — Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) 2025 memasuki hari keempat. Sejumlah siswa yang telah mengikuti ujian mengungkapkan tantangan tersulit mereka, dan mayoritas menyebut soal penalaran matematika sebagai bagian yang paling sulit ditaklukkan.
Salah satu peserta asal Depok, Arif (18), yang mengikuti ujian di Universitas Indonesia menyebut bahwa bagian penalaran matematika benar-benar membuatnya kesulitan. “Soalnya panjang-panjang dan perlu waktu untuk mencerna. Saya butuh waktu lama di satu soal,” ujar Arif kepada Kompas.com usai ujian.
Senada dengan Arif, peserta lainnya, Shinta (17) dari Bogor, juga mengaku kewalahan dalam menjawab bagian penalaran matematika. “Kita harus mikir logis, bukan hanya hitung-hitungan. Rasanya kayak ngisi teka-teki matematika,” tutur Shinta yang mengikuti UTBK di Universitas Pakuan.
Ujian SNBT 2025 ini terdiri dari tiga subtes utama: penalaran umum, literasi dalam bahasa Indonesia dan Inggris, serta penalaran matematika. Namun, dari berbagai laporan peserta, penalaran matematika menjadi momok utama dibanding dua bagian lainnya.
Pihak panitia SNPMB sebelumnya telah menjelaskan bahwa penalaran matematika dalam SNBT 2025 dirancang untuk mengukur kemampuan berpikir logis dan kuantitatif, bukan sekadar menghitung cepat. Kepala Balai Pengelolaan Pengujian Pendidikan, Mochamad Hasbi, mengatakan, “Tujuan kami adalah menilai kemampuan penalaran siswa, bukan hafalan rumus.”
Meski banyak peserta mengeluhkan soal sulit, ada pula yang menyambut baik perubahan ini. Bagi sebagian siswa, sistem baru ini dianggap lebih adil karena menilai logika dan kemampuan berpikir kritis ketimbang hafalan semata.
UTBK SNBT 2025 akan berlangsung hingga 30 April, dibagi dalam dua gelombang. Peserta yang sudah selesai ujian tinggal menunggu pengumuman kelulusan yang akan disampaikan melalui laman resmi SNPMB.
(ar/ar)
