
Sentra Jateng — Enam anggota satu keluarga menjadi korban tewas akibat serangan udara Israel yang terjadi di wilayah Rafah, Jalur Gaza bagian selatan, pada Kamis (24/4/2025) waktu setempat. Serangan tersebut menghantam rumah mereka saat para korban sedang terlelap tidur.
Dilansir dari kantor berita AFP, insiden memilukan ini terjadi dini hari, menewaskan empat anak, satu perempuan dewasa, dan seorang pria. Serangan itu menjadi bagian dari operasi militer Israel yang terus berlangsung di Gaza sejak konflik kembali memanas Oktober tahun lalu.
Seorang juru bicara dari rumah sakit terdekat, seperti yang dikutip oleh AFP, mengonfirmasi bahwa keenam korban berasal dari satu keluarga. Mereka ditemukan di antara reruntuhan rumah yang hancur total akibat serangan udara tersebut.
Sampai saat ini, militer Israel belum memberikan keterangan resmi terkait insiden tersebut. Namun, serangan-serangan seperti ini bukanlah yang pertama terjadi di Rafah, yang kini menjadi titik konsentrasi operasi darat dan udara Israel.
Rafah sendiri merupakan lokasi strategis di dekat perbatasan dengan Mesir, yang selama ini menjadi jalur pelarian bagi warga sipil Palestina. Namun, seiring meningkatnya intensitas konflik, kota ini justru menjadi salah satu titik paling rawan.
PBB sebelumnya telah memperingatkan bahwa serangan besar-besaran ke Rafah dapat menimbulkan konsekuensi kemanusiaan serius. Sebagian besar penduduk Gaza yang kini mengungsi, memilih menetap di Rafah karena dianggap lebih aman.
Sejak konflik meletus kembali pada 7 Oktober 2024, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 34.000 warga Palestina telah meninggal dunia. Dari jumlah tersebut, mayoritas adalah perempuan dan anak-anak.
Sementara itu, di pihak Israel, data dari pemerintah setempat menunjukkan bahwa sekitar 1.170 warga tewas dalam serangan mendadak Hamas pada Oktober tahun lalu, yang menjadi pemicu eskalasi militer.
Situasi di Gaza masih jauh dari stabil, dan serangan yang menewaskan satu keluarga ini kembali menyoroti dampak tragis dari konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina. Pihak komunitas internasional terus menyerukan gencatan senjata dan perlindungan terhadap warga sipil.
(ar/ar)
