
Sentra Jateng - Upaya menekan tingginya kasus kanker serviks di Indonesia mendapat angin segar lewat peluncuran alat skrining Human Papillomavirus (HPV) berbasis sampel urine yang dikembangkan Bio Farma. Inovasi ini dikenalkan dalam seminar kesehatan di Palu pada Rabu malam (23/4/2025) dan diklaim memudahkan perempuan melakukan deteksi dini tanpa prosedur invasif.
“Kanker serviks sering disebut silent killer karena virusnya bisa berdiam 5‑10 tahun tanpa gejala,” kata Dimas Dwi Auditya, Kepala Departemen Pemasaran Geografis Bio Farma, dalam rilis resmi yang dibacakan panitia. Berdasarkan data WHO 2020, tercatat lebih dari 600 ribu kasus kanker serviks secara global dengan angka kematian 300 ribu jiwa.
Di Indonesia, kanker serviks menempati peringkat kedua setelah kanker payudara, rata‑rata 89 kasus baru dan dua kematian setiap hari. Dimas menegaskan, alat tes urine ini memiliki akurasi tinggi, kandungan lokal besar, dan prosedur pengambilan sampel yang sederhana, sehingga diharapkan meningkatkan partisipasi skrining.
Hanya 5 Persen Perempuan Rutin Tes
Sry Nirwanti Bahasoan, Ketua TP‑PKK Sulawesi Tengah, menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat. “Sebanyak 70 persen kasus terdeteksi pada stadium lanjut. Dua perempuan di Indonesia meninggal setiap jam, sementara yang rutin skrining baru 5 persen,” ujarnya di hadapan ratusan peserta.
Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny A Lamadjido menambahkan, vaksinasi HPV dan skrining berkala mesti berjalan beriringan. “Kanker serviks sebenarnya dapat dicegah. Sayangnya masih banyak yang takut atau malu memeriksakan diri,” tutur Reny, sembari mendorong kader PKK aktif mengedukasi warga hingga pelosok.
Cara Kerja dan Keunggulan Tes Urine
Alat buatan Bio Farma ini mendeteksi DNA HPV risiko tinggi dalam urin pertama pagi hari. Hasil bisa diketahui dalam waktu kurang dari tiga jam. Berbeda dengan Pap smear atau IVA yang memerlukan tenaga medis terlatih, pengambilan sampel urine bisa dilakukan mandiri di rumah, kemudian dibawa ke fasilitas kesehatan untuk dianalisis.
Dimas menjelaskan, teknologi tersebut telah melalui uji klinis multi‑pusat dan memperoleh izin edar Kementerian Kesehatan. Tingkat sensitivitasnya diklaim setara PCR dengan biaya lebih murah.
Harapan ke Depan
Pemerintah provinsi berencana mengintegrasikan tes urine HPV ke program Posyandu dan kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Sry Nirwanti menargetkan minimal 50 persen perempuan usia 30‑49 tahun di Sulawesi Tengah menjalani skrining dalam dua tahun ke depan.
Reny A Lamadjido menutup acara dengan seruan: “Jagalah diri, cintai keluarga. Deteksi dini lebih baik daripada menyesal di kemudian hari.”
Dengan hadirnya inovasi ini, para pemangku kepentingan berharap hambatan budaya dan kenyamanan yang selama ini menghalangi perempuan menjalani skrining dapat teratasi, sehingga angka kematian akibat kanker serviks dapat ditekan signifikan.
(ar/ar)
