
SENTRA JATENG – Keputusan KAI Daop 6 untuk menghentikan pemutaran lagu legendaris “Bengawan Solo” di seluruh stasiun di wilayah operasinya menyulut beragam reaksi publik. Kebijakan yang mulai efektif Senin (25/8) ini dijelaskan sebagai bagian dari rotasi playlist untuk menghadirkan variasi lagu-lagu daerah lainnya.
Alasan Dihentikannya Lagu Iconic Tersebut
Manager Humas KAI Daop 6, Sutarno, S.T., menegaskan bahwa penghentian pemutaran lagu karya Gesang ini bukanlah bentuk penghapusan warisan budaya, melainkan upaya memperkenalkan kekayaan musik daerah lain kepada penumpang.
“Kami ingin menampilkan keberagaman budaya Jawa Tengah. Selama ini ‘Bengawan Solo’ sudah menjadi soundtrack tetap selama puluhan tahun. Sekarang saatnya lagu-lagu seperti ‘Gambang Suling’ dari Surakarta atau ‘Jali-Jali’ dari Semarang juga didengar,” jelas Sutarno kepada awak media, Kamis (28/8).
Respons Warganet dan Budayawan
Kebijakan ini menuai pro-kontra. Sebagian mendukung inisiatif diversifikasi budaya, sementara lainnya menyesalkan hilangnya nuansa nostalgia yang khas di stasiun.
Budayawan Solo, Ki Hermanus, mengapresiasi niat KAI namun mengingatkan pentingnya melestarikan icon budaya.
“Bengawan Solo bukan sekadar lagu, ia adalah jiwa Kota Solo. Seharusnya tetap diputar sebagai bentuk penghormatan, sambil tetap menyisipkan lagu-lagu lain,” ujarnya.
Playlist Baru akan Melibatkan Komunitas Seni
KAI Daop 6 mengungkapkan bahwa playlist baru sedang disusun dengan melibatkan komunitas seni lokal dan dinas kebudayaan. Lagu-laga pilihan akan diputar secara bergilir berdasarkan jadwal tertentu, termasuk lagu-lagu daerah dari kota lain seperti Purwokerto, Yogyakarta, dan Madiun.
Red (ar/ar)
