dok. Freepik

SENTRA JATENG – Seorang pengemudi motor yang menganiaya anggota polisi lalu lintas (polantas) di Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, diduga kuat mengalami gangguan jiwa berat. Hal ini terungkap dalam pemeriksaan awal yang dilakukan oleh pihak kepolisian bekerja sama dengan tenaga kesehatan mental.

Insiden yang semula dinilai sebagai tindakan perlawanan terhadap petugas ini akhirnya menyisakan kompleksitas dalam penanganan hukumnya, mengingat kondisi mental pelaku yang tidak stabil.

Kronologi Insiden dan Penganiayaan

Kejadian berawal ketika personel Polsek Sawah Besar sedang melaksanakan tugas pengaturan lalu lintas di kawasan Gunung Sahari yang dikenal padat. Seorang pengendara motor yang tidak disebutkan namanya berperilaku tidak tertib dan mengganggu arus lalu lintas.

Saat ditegur oleh petugas, pengendara tersebut bukannya menuruti instruksi malah menunjukkan reaksi agresif. Dia turun dari motornya dan langsung melakukan penganiayaan terhadap polisi yang sedang bertugas. Aksi pemukulan itu sempat membuat suasana ricuh sebelum akhirnya pelaku dapat dibekuk oleh petugas yang lain.

Temuan Awal Gangguan Jiwa

Kapolsek Sawah Besar, Kompol Rudi Hartono, menjelaskan bahwa selama proses pemeriksaan, pelaku menunjukkan perilaku yang tidak wajar dan sangat tidak kooperatif. “Dari hasil pemeriksaan sementara dan wawancara dengan keluarga, terungkap bahwa pelaku memiliki riwayat gangguan jiwa. Perilaku agresifnya diduga kuat dipicu oleh kondisi mentalnya yang tidak stabil,” ujar Rudi dalam keterangan persnya, Sabtu (13/9/2025).

Keluarga pelaku, yang telah dihubungi oleh pihak kepolisian, konfirmasi bahwa memang ada riwayat gangguan kejiwaan yang diderita dan bahwa pelaku terkadang tidak mengonsumsi obat secara rutin.

Penanganan Hukum dan Kesehatan

Menyikapi kondisi khusus ini, kepolisian tidak serta merta memproses hukum secara biasa. Pelaku saat ini tidak ditahan di sel tahanan umum, melainkan menjalani pemeriksaan dan observasi medis lebih lanjut di rumah sakit untuk memastikan diagnosis dan mendapatkan penanganan yang tepat.

“Kami prioritaskan aspek kemanusiaan dan kesehatan pelaku. Proses hukum akan tetap berjalan, tetapi akan disesuaikan dengan kondisi kejiwaannya dan tentunya dengan mempertimbangkan rekomendasi dari ahli kesehatan jiwa,” tambah Kompol Rudi. Langkah ini menunjukkan pendekatan yang lebih holistic oleh aparat penegak hukum.

Refleksi Penanganan Individu dengan Gangguan Jiwa

Insiden ini kembali menyoroti pentingnya penanganan dan dukungan yang memadai bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di ruang publik. Selain itu, juga pentingnya peran keluarga dalam memastikan pengobatan yang rutin untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Masyarakat diharapkan dapat lebih memahami dan bersikap bijak apabila menemui orang dengan kondisi serupa, sambil tetap memprioritaskan keselamatan dan melaporkan kepada pihak yang berwenang agar dapat ditangani secara proporsional.

Red (ar/ar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Simak Berita Lengkap Viral Terpopuler !!!

X