dok. Qatar News Agency/AFP

SENTRA JATENG – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Liga Arab yang digelar di Doha, Qatar, resmi ditutup pada Rabu (17/9/2025) dengan hasil yang dinilai minim oleh para pengamat. Pertemuan yang bertujuan untuk menyatukan pandangan dan strategi dalam menghadapi pengaruh serta kebijakan agresif Iran di kawasan Timur Tengah tersebut justru mengungkapkan perbedaan pendapat yang dalam di antara negara-negara anggota.

Kegagalan untuk menghasilkan sebuah deklarasi bersama atau rencana aksi yang konkret memperkuat narasi bahwa Liga Arab sedang mengalami disorientasi dan ketidakberdayaan dalam menghadapi kekuatan regional lain.

Perbedaan Pandangan yang Tak Terjembatani

Sumber diplomatik yang hadir dalam pertemuan tertutup menyebutkan bahwa perdebatan sengit terjadi antara dua kubu. Di satu sisi, negara-negara seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mendesak pendekatan yang lebih tegas dan mungkin bersifat konfrontatif. Di sisi lain, negara-negara seperti Qatar dan Oman lebih memilih jalur diplomasi dan dialog untuk meredakan ketegangan.

“Perbedaan ini terlalu lebar untuk dijembatani dalam waktu singkat. Masing-masing pihak memiliki kepentingan nasional dan pertimbangan keamanan yang berbeda dalam menyikapi Iran,” ujar seorang diplomat yang enggan disebutkan namanya kepada AFP.

Kritik dari Kalangan Pengamat

Para pengamat politik internasional menyayangkan hasil KTT ini. Mereka menilai ketidakmampuan negara-negara Arab untuk bersatu dalam sebuah posisi yang kohesif justru akan memperkuat posisi Iran dan memperlemah daya tawar kolektif mereka di kancah global.

“Liga Arab semakin kehilangan relevansinya. Ketidakmampuan untuk bertindak sebagai sebuah blok yang solid hanya akan membuat negara-negara anggota semakin rentan terhadap intervensi dan pengaruh kekuatan asing, tidak hanya Iran tetapi juga pihak lainnya,” kata Dr. Sami Al-Faraj, seorang analis politik Kuwait, dalam sebuah wawancara.

Dampak dan Masa Depan Kawasan

Kegagalan KTT Doha ini diprediksi akan memiliki implikasi jangka panjang bagi stabilitas keamanan di Timur Tengah. Dengan tidak adanya strategi bersama, setiap negara akan cenderung mengambil kebijakan unilateral atau membentuk aliansi-aliansi kecil yang dapat memicu ketidakseimbangan kekuatan baru.

Ketiadaan aksi nyata ini juga berpotensi memicu eskalasi di beberapa titik konflik proxy, seperti di Yaman, Suriah, dan Irak, di mana Iran dan beberapa negara Arab saling berhadapan secara tidak langsung. Masa depan perdamaian dan stabilitas di kawasan semakin suram.

Red (ar/ar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Simak Berita Lengkap Viral Terpopuler !!!

X