dok. candra nugraha/KOMPAS

SENTRA JATENG  – Puluhan siswa SMPN 4 Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, mengalami keracunan usai menyantap makan siang dari program Menu Bergizi Bebas (MBG) yang disediakan sekolah, Minggu (29/9/2025). Peristiwa ini memicu respons cepat dari orang tua yang meminta perbaikan sistem pengelolaan menu tersebut.

Salah satu orang tua murid, Asep Saepuloh (45), menyatakan bahwa kejadian ini seharusnya bisa diantisipasi. Ia menduga kuat keracunan berasal dari lauk pauk yang disajikan. “Saya menduga dari lauknya, karena anak saya bilang lauknya ada ikan, telur, dan tahu. Tapi, mungkin cara memasaknya atau kebersihannya yang kurang diperhatikan,” ujar Asep saat diwawancarai di lokasi.

Ia pun mendesak pihak sekolah dan penyedia jasa untuk lebih berhati-hati. “Ke depan, untuk Menu Bergizi Bebas-nya harus lebih diperhatikan lagi dalam hal pengemasannya. Jangan sampai hanya sekadar bagi-bagi nasi kotak, tapi tidak memerhatikan kualitas dan kebersihannya,” tegasnya.

Kronologi dan Gejala Korban

Insiden berawal ketika puluhan siswa kelas 7, 8, dan 9 menerima dan menyantap makan siang dari program MBG sekitar pukul 11.30 WIB. Beberapa jam kemudian, sejumlah siswa mulai mengeluhkan gejala keracunan. Gejala yang dialami korban antara lain mual, muntah-muntah, pusing, dan sakit perut.

Hingga berita ini diturunkan, jumlah pasti korban masih dalam pendataan. Namun, puluhan siswa telah dilarikan ke Puskesmas Pamarican 1 dan 2 untuk mendapatkan pertolongan medis.

Respons Cepat Sekolah dan Dinas Kesehatan

Menyikapi kejadian ini, Kepala SMPN 4 Pamarican, Dadan Ramdani, menyatakan pihaknya telah mengambil langkah cepat. “Kami sudah langsung mengarahkan untuk dibawa ke puskesmas. Untuk sementara, program Menu Bergizi Bebas kami hentikan dulu sampai ada kejelasan dari dinas terkait,” kata Dadan.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Ciamis, dr. Taufik Hidayat, mengonfirmasi bahwa timnya telah turun ke lapangan untuk melakukan investigasi. “Kami sudah turun ke lapangan, mengambil sampel makanan dan memeriksa kondisi anak-anak,” ujar Taufik.

Penyelidikan Menyebabkan Dugaan Penyebab

Investigasi awal difokuskan pada makanan yang dikonsumsi. Tim Dinkes mengambil sampel lauk pauk, termasuk ikan, telur, dan tahu, serta sampel muntahan dari beberapa korban untuk diteliti di laboratorium. Hasil investigasi ini dinanti untuk memastikan sumber keracunan dan mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.

Red (ar/ar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Simak Berita Lengkap Viral Terpopuler !!!

X