dok. TANGKAPAN LAYAR VIDEO DOKUMENTASI WARGA

SENTRA JATENG – Sebuah pemandangan mengharukan terlihat di Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan. Seorang kapten kapal bernama La Ode Mustari harus bertahan hidup sendirian di atas kapal KM Sinar Jaya selama hampir lima bulan. Kehidupannya terombang-ambing karena muatan kapalnya, berupa 136 unit mesin genset, disita oleh pihak berwajib.

“Selama di sini, saya hanya bisa berdoa. Kadang saya menangis, tapi saya harus tetap kuat. Saya kan laki-laki, harus tabah,” ujar Ode, sapaan akrabnya, dengan suara bergetar saat ditemui di geladak kapalnya, Sabtu (11/10/2025). Pria asal Kolaka, Sulawesi Tenggara, itu terlihat kurus dan hanya mengenakan celana pendek lusuh.

Awal Mula Muatan Disita

Kisah pilu Ode berawal pada 22 Mei 2025, ketika kapal yang dinahkodainya membawa muatan 136 unit mesin genset dari Tanjung Priok, Jakarta, menuju Kolaka. Saat singgah di Pelabuhan Makassar, muatan tersebut disita oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Perdagangan. Alasannya, diduga kuat melanggar aturan karena tidak dilengkapi dengan dokumen yang sah.

Sejak saat itu, hidup Ode berubah. Anak buah kapal (ABK) lainnya, berjumlah empat orang, terpaksa pulang karena tidak ada kepastian. Hanya Ode yang bertahan untuk menjaga kapal milik perusahaan. “ABK saya suruh pulang saja. Biar saya saja yang tunggu di sini. Wong tidak ada yang bisa kita buat,” kenangnya dengan wajah pasrah.

Hidup Terkatung-katung di Atas Kapal

Selama lima bulan, Ode hidup dalam ketidakpastian. Untuk bertahan hidup, ia mengandalkan bantuan dari rekan-rekan sesama pelaut dan orang-orang baik yang memberinya makanan. “Makan ya cuma dikasih teman-teman. Kadang dapat nasi bungkus, kadang saya masak sendiri di kapal. Pokoknya yang penting hidup,” tuturnya.

Ia mengaku sangat merindukan keluarganya di Kolaka. Namun, sebagai kapten, tanggung jawabnya untuk menjaga kapal membuatnya harus rela terpisah dari orang-orang tercinta. Setiap hari, aktivitasnya hanya memantau kondisi kapal dan berharap ada kejelasan mengenai muatan yang disita. Rasa bosan, kesepian, dan cemas menjadi teman sehari-harinya.

Upaya Penyelesaian yang Berlarut

Ode mengungkapkan bahwa pihak perusahaan pemilik kapal telah berusaha menyelesaikan perkara ini. Namun, proses hukum yang berbelit membuat penyelesaiannya molor. Ia tidak tahu sampai kapan harus bertahan dalam keadaan seperti ini.

“Saya cuma berharap ini cepat selesai. Saya ingin bisa pulang, ingin bertemu keluarga. Saya juga ingin bisa bekerja lagi, berlayar dengan normal,” ucap Ode dengan harapan. Sambil menatap laut lepas, ia kembali menguatkan hatinya, bersandar pada doa dan ketabahan sebagai seorang pelaut tua.

Red (ar/ar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Simak Berita Lengkap Viral Terpopuler !!!

X