
SENTRA JATENG – Fenomena “nirempati” atau ketiadaan empati di ruang digital mulai menjadi perhatian serius para ahli. Seorang Psikolog Klinis dari Universitas Indonesia, A. Kasandra Putranto, M.Psi., memaparkan bahwa sikap tidak berempati yang kerap ditampilkan di dunia maya ternyata tidak berhenti di sana. Kebiasaan ini berpotensi “menular” dan memengaruhi perilaku individu dalam interaksi sosialnya di kehidupan nyata.
“Ketika seseorang terbiasa berkomentar tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain secara online, lama-kelamaan itu bisa menjadi sebuah kebiasaan. Pola pikir dan cara berinteraksi yang dingin itu bisa terbawa ketika mereka berkomunikasi secara tatap muka,” jelas Kasandra dalam wawancara khususnya, Senin (20/10/2025).
Dari Balik Layar ke Tatap Muka, Bagaimana Proses “Penularannya”?
Kasandra membeberkan mekanisme psikologis di balik fenomena ini. Dunia maya, dengan karakteristiknya yang memungkinkan anonimitas dan mengurangi isyarat nonverbal, menciptakan jarak psikologis. “Kita tidak melihat ekspresi sedih atau terluka dari lawan bicara. Ketidakadaan umpan balik emosional secara langsung ini membuat kita lebih mudah melepaskan kata-kata yang tidak empatik,” ujarnya.
Kebiasaan yang terus-menerus dipraktikkan ini, lanjut Kasandra, pada akhirnya akan menguatkan jalur saraf tertentu di otak. “Apa yang sering kita lakukan akan menjadi otomatis. Jika kita terus melatih ‘otak’ untuk tidak berempati di dunia online, respons yang sama akan lebih mudah dikeluarkan dalam berbagai situasi, termasuk di dunia nyata,” tambahnya.
Mengikis Kemampuan Sosial yang Mendasar
Dampak jangka panjang dari kebiasaan nirempati ini dinilai cukup mengkhawatirkan, terutama dalam membina hubungan interpersonal yang sehat. Kemampuan untuk memahami dan merasakan perasaan orang lain adalah fondasi dari hubungan sosial yang kuat.
“Empati adalah keterampilan sosial inti. Jika ini tumpul, dampaknya bisa luas—mulai dari kesulitan mempertahankan pertemanan, konflik dalam hubungan asmara, hingga tantangan dalam bekerja secara tim di kantor. Individu menjadi lebih egosentris dan sulit membangun kedekatan dengan orang lain,” papar Kasandra lebih lanjut.
Langkah-Langkah Melatih “Otak Empatik” di Ruang Digital
Menutup pembicaraan, Kasandra memberikan kiat praktis untuk mencegah “penularan” nirempati ini. Langkah pertama adalah dengan menciptakan jeda sebelum merespons atau berkomentar. “Tarik napas, baca ulang komentar kita. Tanyakan pada diri sendiri, ‘Apakah saya akan berkata seperti ini langsung di depan orangnya?'”
Selain itu, ia juga menganjurkan untuk aktif membatasi paparan konten-konten negatif dan toxic di media sosial. “Kita adalah apa yang kita konsumsi. Mengisi linimasa dengan konten yang inspiratif dan positif dapat membantu melatih perspektif yang lebih berempati,” pungkas Kasandra mengingatkan. Dengan upaya sadar ini, budaya berdigital yang lebih sehat dan manusiawi dapat mulai dibangun dari individu.
Red (ar/ar)
