Dok. Biro Pers Sekretariat Presiden

SENTRA JATENG  – Menteri Pertahanan sekaligus Presiden terpilih, Prabowo Subianto, mendorong agar tradisi ‘nguli’ atau kerja bakti yang sudah mengakar di lingkungan pesantren tidak berhenti sebagai kegiatan fisik semata. Ia mengusulkan agar para santri juga dibekali dengan ilmu konstruksi dan teknik yang formal, sehingga pengalaman mereka bisa memiliki nilai kompetensi yang diakui.

Gagasan ini disampaikan Prabowo saat membuka secara resmi Konferensi Nasional (Konas) V Kemitraan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dengan Pondok Pesantren, di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, pada Selasa (22/10/2025). Acara yang mengusung tema “Sinergi Membangun Negeri” ini dihadiri langsung oleh Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dan Menteri Agama M. Quraish Shihab.

Dari Kerja Bakti Menjadi Kompetensi

Dalam sambutannya, Prabowo mengapresiasi budaya gotong royong dan kerja keras yang ditanamkan di pesantren melalui tradisi nguli. Namun, ia melihat ada peluang besar untuk mengembangkannya lebih jauh. “Di pesantren kan ada tradisi nguli, kerja bakti. Itu bagus. Tapi kenapa tidak kita bekali mereka dengan ilmu? Ilmu konstruksi, ilmu teknik, ilmu pertukangan, ilmu pertanian yang modern,” ujar Prabowo di hadapan para audiens.

Menurutnya, dengan bekal ilmu yang memadai, aktivitas fisik yang selama ini dilakukan dapat bertransformasi menjadi sebuah keahlian yang bernilai ekonomi. “Sehingga nanti bukan hanya sekadar kerja fisik, tetapi mereka punya skill, mereka punya sertifikat, dan mereka bisa membangun negeri ini dengan lebih baik,” tambahnya.

Dukungan Penuh dari Dua Menteri

Gagasan Prabowo ini langsung mendapatkan sambutan positif dari kedua menteri yang hadir. Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menyatakan kesiapannya untuk terlibat dalam mewujudkan ide tersebut. “Kami siap mendukung penuh. Kita bisa selenggarakan pelatihan-pelatihan vokasi konstruksi untuk santri, agar mereka memiliki kompetensi yang sesuai dengan standar industri,” kata Basuki.

Sementara itu, Menteri Agama M. Quraish Shihab melihat ini sebagai peluang untuk memperkuat pendidikan vokasi di pesantren. “Ini sejalan dengan visi Kementerian Agama untuk memberdayakan pesantren. Tradisi nguli yang dikombinasikan dengan ilmu terapan akan menciptakan santri yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga mandiri secara ekonomi,” papar Quraish Shihab.

Implementasi dan Masa Depan Santri

Melalui kolaborasi antara Kementerian PUPR dan Kementerian Agama ini, diharapkan dapat lahir program-program pelatihan konkret yang menjembatani dunia pesantren dengan kebutuhan keterampilan teknis di sektor konstruksi. Langkah ini tidak hanya akan meningkatkan kapasitas individu santri, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kualitas infrastruktur di tingkat komunitas, terutama di daerah-daerah di mana pesantren sering menjadi pusat penggerak masyarakat.

Dengan demikian, tradisi nguli yang mulanya merupakan bagian dari pendidikan karakter, kini memiliki potensi untuk melahirkan para tenaga terampil dan profesional di bidang konstruksi yang siap membangun Indonesia di masa depan.

Red (ar/ar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Simak Berita Lengkap Viral Terpopuler !!!

X